Tampilkan postingan dengan label AnNisa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AnNisa. Tampilkan semua postingan

Juni 10, 2016

Bahagia Membersamai Dua Gadis Kecil

Sungguh sebuah nikmat yang tidak terkira setelah penantian yang cukup panjang akhirnya lahir seorang putri. Kami memberinya nama Aisyah, terbangun doa semoga ia tumbuh sesuai dengan nama yg ia sandang. Aisyah sebuah nama yang agung dialah ummulmukminin yang paling muda putri dari seorang assiddiq, Abu Bakar. Dari diriwayatkan ribuan hadis dan Rasulullah teramat sayang padanya, !meninggal di pangkuannya. Semoga engkau kelak dapat meneladani Aisyah ya mba Aish. Amiin.
Saat mba Aish menginjak 23 bulan lahir adik kecil yang selalu dibayang-bayangi oleh sang kakak, kami beri nama Fatimah. Doa yang sama untuk dik, semoga engkau dapat meneladani putri Rasullulah yang amat mulia ini. Istri dari Ali bin Abu Thalib, ibu dari Hasan dan Husain. Fatimah yang amat berani membela ayah mana kalau orang-orang kafir kurais menyakiti, mencaci dan bahkan melempari kotoran unta saat tengah beribadah disekitar Ka'bah.
 Allohumma hablana milladunka dzurriyatan thoyyiba. Ya Alloh karuniakanlah dari sisimu keturunan yang mulia, amiin.

Maret 12, 2014

Kedudukan Shalat Dalam Islam

Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi, almanhaj.or.id


Shalat wajib ada lima: Zhuhur, ‘Ashar, Maghrib, ‘Isya', dan Shubuh.

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Pada malam Isra' (ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dinaikkan ke langit) diwajibkan kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat lima puluh waktu. Lalu dikurangi hingga menjadi lima waktu. Kemudian beliau diseru, 'Hai Muhammad, sesungguhnya keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah. Dan sesungguhnya bagimu (pahala) lima ini seperti (pahala) lima puluh'.”[1]

Dari Thalhah bin 'Ubaidillah Radhiyallahu anhu, ia menceritakan bahwa pernah seorang Arab Badui berambut acak-acakan mendatangi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata, "Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku shalat apa yang diwajibkan Allah atasku." Beliau menjawab:

اَلصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ إِلاَّ أَنْ تَطَوَّعَ شَيْئًا.

"Shalat lima waktu, kecuali jika engkau ingin menambah sesuatu (dari shalat sunnah)." [2]

Kedudukan Shalat Dalam Islam
Dari 'Abdullah bin 'Umar Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

بُنِيَ اْلإِسْـلاَمُ عَلَى خَمْسٍ، شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ.

"Islam dibangun atas lima (perkara): kesaksian bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, haji ke baitullah, dan puasa Ramadhan." [3]

A. Hukum Orang Yang Meninggalkan Shalat
Seluruh ummat Islam sepakat bahwa orang yang mengingkari wajibnya shalat, maka dia kafir dan keluar dari Islam. Tetapi mereka berselisih tentang orang yang meninggalkan shalat dengan tetap meyakini kewajiban hukumnya. Sebab perselisihan mereka adalah adanya sejumlah hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang menamakan orang yang meninggalkan shalat sebagai orang kafir, tanpa membedakan antara orang yang mengingkari dan yang bermalas-malasan mengerjakannya.

Dari Jabir Radhiyallahu anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ.

“Sesungguhnya (batas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” [4]

Dari Buraidah, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

اَلْعَهْدُ الَّذِيْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَتُ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ.

‘Perjanjian antara kita dan mereka adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya, maka ia telah kafir.’” [5]

Namun yang rajih dari pendapat-pendapat para ulama', bahwa yang dimaksud dengan kufur di sini adalah kufur kecil yang tidak mengeluarkan dari agama. Ini adalah hasil kompromi antara hadits-hadits tersebut dengan beberapa hadits lain, di antaranya:

Dari ‘Ubadah bin ash-Shamit Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللهُ عَلَى الْعِبَـادِ، مَنْ أَتَى بِهِنَّ لَمْ يُضِيْعَ مِنْهُنَّ شَيْئًا اِسْتِخْفَافًا بِحَقِّهِنَّ كَـانَ لَهُ عِنْدَ اللهِ عَهْدٌ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ، وَمَنْ لَمْ يَأْتِ بِهِنَّ فَلَيْسَ لَهُ عِنْدَ اللهِ عَهْدٌ، إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ.
‘Lima shalat diwajibkan Allah atas para hamba. Barangsiapa mengerjakannya dan tidak menyia-nyiakannya sedikit pun karena menganggap enteng, maka dia memiliki perjanjian de-ngan Allah untuk memasukkannya ke Surga. Dan barangsiapa tidak mengerjakannya, maka dia tidak memiliki perjanjian dengan Allah. Jika Dia berkehendak, maka Dia mengadzabnya. Atau jika Dia berkehendak, maka Dia mengampuninya.’”[6]

Kita menyimpulkan bahwa hukum meninggalkan shalat masih di bawah derajat kekufuran dan kesyirikan. Karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyerahkan perkara orang yang tidak mengerjakannya kepada kehendak Allah.

Sedangkan Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” [An-Nisaa’: 48]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya yang pertama kali dihisab dari seorang hamba yang muslim pada hari Kiamat adalah shalat wajib. Jika dia mengerjakannya dengan sempurna (maka ia selamat). Jika tidak, maka dikatakan: Lihatlah, apakah dia memiliki shalat sunnah? Jika dia memiliki shalat sunnah maka shalat wajibnya disempurnakan oleh shalat sunnah tadi. Kemudian seluruh amalan wajibnya dihisab seperti halnya shalat tadi.’” [7]

Dari Hudzaifah bin al-Yaman, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Islam akan lenyap sebagaimana lenyapnya warna pada baju yang luntur. Hingga tidak lagi diketahui apa itu puasa, shalat, qurban, dan shadaqah. Kitabullah akan diangkat dalam satu malam, hingga tidak tersisalah satu ayat pun di bumi. Tinggallah segolongan manusia yang terdiri dari orang tua dan renta. Mereka berkata, 'Kami dapati bapak-bapak kami mengucapkan kalimat: Laa ilaaha illallaah dan kami pun mengucapkannya.’” Shilah berkata kepadanya, “Bukankah kalimat laa ilaaha illallaah tidak bermanfaat untuk mereka, jika mereka tidak tahu apa itu shalat, puasa, qurban, dan shadaqah?”

Lalu Hudzaifah berpaling darinya. Shilah mengulangi pertanyaannya tiga kali. Setiap kali itu pula Hudzaifah berpaling darinya. Pada kali yang ketiga, Hudzaifah menoleh dan berkata, “Wahai Shilah, kalimat itulah yang akan menyelamatkan mereka dari Neraka. Dia mengulanginya tiga kali.” [8]

B. Kepada Siapa Diwajibkan?
Shalat itu diwajibkan kepada setiap muslim yang telah baligh dan berakal
Dari ‘Ali Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ: عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ، وَعَنِ الْمَجْنُوْنِ حَتَّى يَعْقِلَ.

“Pena (pencatat amal) diangkat dari tiga orang: dari orang yang tidur hingga terbangun, dari anak-anak hingga baligh, dan dari orang gila hingga kembali sadar.” [9]

Wajib atas orang tua untuk menyuruh anaknya mengerjakan shalat meskipun shalat tadi belum diwajibkan atasnya, agar ia terbiasa untuk mengerjakan shalat.

Dari 'Amr bin Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مُرُوْا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَـاءُ سَبْعَ سِنِيْنَ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرَ سِنِيْنَ، وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ.

“Perintahkan anak-anak kalian untuk shalat pada usia tujuh tahun. Dan pukullah mereka karena meninggalkannya pada usia sepuluh tahun. Serta pisahkanlah ranjang mereka.” [10]

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 2007M]
_______
Footnote
[1]. Muttafaq 'alaihi: [Sunan at-Tirmidzi (I/137 no. 213)], secara ringkas. Dan diriwayatkan secara panjang dalam Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (VII/201 no. 3887), Shahiih Muslim (I/145 no. 259), serta Sunan an-Nasa-i (I/217).
[2]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/106 no. 46)], Shahiih Muslim (I/40 no. 11), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/53 no. 387), dan Sunan an-Nasa-i (IV/121).
[3]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih Muslim (I/45 no. 16 (20))], ini adalah lafazh darinya, Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/49 no. 8), Sunan at-Tirmidzi (IV/119 no. 2736), Sunan an-Nasa-i (VIII/107).
[4]. Shahiih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 2848)], Shahiih Muslim (I/88 no. 82), ini adalah lafazhnya, Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (XII/436 no. 4653), dan Sunan at-Tirmidzi (IV/125 no. 2751), dan Sunan Ibni Majah (I/342 no. 1078).
[5]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 884)], Sunan Ibni Majah (I/342 no. 1079), Sunan an-Nasa-i (I/231), dan Sunan at-Tirmidzi (IV/125 no. 2756).
[6]. Shahiih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1150)], Muwaththa’ al-Imam Malik (hal. 90 no. 266), Ahmad (II/234 no. 82), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/ 93 no. 421), Sunan Ibni Majah (I/449 no. 1401), dan Sunan an-Nasa-i (I/230).
[7]. Shahiih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1172)], Sunan Ibni Majah (I/458 no. 1425), ini adalah lafazhnya, Sunan at-Tirmidzi (I/258 no. 411), dan Sunan an-Nasa-i (I/232).
[8]. Shahiih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 3273)], dan Sunan Ibni Majah (II/1344 no. 4049).
[9]. Shahiih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 3513), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (XII/78 no. 4380).
[10]. Hasan: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 5868)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/162 no. 491), ini adalah lafazhnya, Ahmad (al-Fat-hur Rabbaani) (II/237 no. 84), dan Mustadrak al-Hakim (I/197).

Mei 27, 2011

Peringatan bagi Wanita

Urusan pertama yang ditanyakan pada hari akhirat nanti ialah mengenai solat dan mengenai urusan suaminya (apakah ia menjalankan kewajipannya atau tidak).

2. Apabila wanita itu lari dari rumah suaminya maka tidak diterima solatnya sehingga kembali ia dan menghulurkan tangannya kepada suaminya (meminta ampun).

3. Mana-mana perempuan yang memakai bau-bauan kemudian ia keluar melintasi kaum lelaki ajnabi agar mereka tercium bau harumnya maka dia adalah perempuan zina dan tiap-tiap mata yang memandang itu adalah zina.

4. Sebaik-baik wanita ialah tinggal di rumah, tidak keluar kecuali atas urusan yang mustahak. Wanita yang keluar rumah akan dipesonakan oleh iblis. Sabda Nabi s.a.w., "Perempuan itu aurat, maka apabila ia keluar mendongak syaitan memandang akan dia."

5. Haram bagi wanita melihat lelaki sebagaimana lelaki haram melihat wanita yang halal nikah (kecuali dalam urusan menuntut ilmu dan berjual beli).


6. Diriwayatkan bahawa pada suatu hari ketika Rasulullah s.a.w. bersama isteri-isterinya (Ummu Salamah r.ha. dan Maimunah r.ha.), datang seorang sahabat yang buta matanya (Ibnu Maktum) Rasulullah s.a.w. menyuruh isteri-isterinya masuk ke dalam. Bertanya Ummu Salamah, "Bukankah orang itu tidak dapat melihat kami, Ya Rasulullah ?" Rasulullah s.a.w. menjawab, "Bukankah kamu dapat melihatnya."

7. Perempuan yang melabuhkan pakaian dalam keadaan berhias (bukan untuk suami dan mahramnya) adalah seumpama gelap-gelita pada hari Qiamat tiada Nur baginya.

8. Mana-mana wanita yang bermasam muka menyebabkan tersinggung suaminya, maka wanita itu dimurkai Allah sehingga ia bermanis muka dan tersenyum mesra pada suaminya.

9. Tidak boleh seorang isteri mengerjakan puasa sunat kalau suaminya ada di rumah serta tidak mengizinkan dia berpuasa.

10. Hendaklah isteri berpuas hati (redha) dengan suaminya yang telah dijodohkan oleh Allah, sama ada miskin atau kaya.

11. Perempuan tidak berhak keluar dari rumahnya melainkan jika terpaksa(kerana sesuatu urusan yang mustahak) dan ia juga tidak berhak melalui jalan lalu lalang melainkan di tepi-tepinya.

12. Apabila memanggil lelaki akan isterinya ke tempat tidur tetapi ditolaknya hingga marahlah suaminya, akan tidurlah wanita itu dalam laknat oleh malaikat ke pagi.

13. Wanita-wanita yang menggunakan lidahnya untuk menyakiti hati suaminya, ia akan mendapat laknat dan kemurkaan Allah, laknat malaikat juga laknat manusia sekalian.

14. Tidak harus seseorang manusia sujud kepada manusia dan jika diharuskan, maka akan aku perintahkan semua kaum wanita sujud pada suaminya kerana membesarkan dan memuliakan hak-hak suami mereka.

15. Wanita yang menyakiti hati suaminya dengan lidahnya pada hari Qiamat nanti Allah jadikan lidahnya sepanjang 70 hasta kemudian diikat ke belakang lehernya.

16. "Aku lihat api neraka, tidak pernah aku lihat seperti hari ini, kerana ada pemandangan yang dahsyat di dalamnya. Telah aku saksikan kebanyakan ahli neraka ialah wanita." Rasulullah s.a.w. ditanyai, "Mengapa demikian Ya Rasulullah?" Jawab Rasulullah s.a.w. "Wanita mengkufurkan suaminya dan mengkufurkan ehsannya. Jika engkau berbuat baik kepadanya seberapa banyak pun dia masih belum rasa berpuas hati dan cukup."

17. "Kebanyakan ahli neraka adalah terdiri dari kaum wanita." Maka menangislah mereka dan bertanya salah seorang daripada mereka, "Mengapa terjadi demikian, adakah kerana mereka berzina atau membunuh anak atau kafir?" Jawab Nabi s.a.w. "Tidak, mereka ini ialah mereka yang tidak bersyukur akan nikmat suaminya, sesungguhnya tiap-tiap seorang kamu adalah dalam nikmat suaminya."

18. Keadaan wanita 10 kali ganda seorang lelaki di dalam neraka dan 2 kali ganda seorang lelaki di dalam syurga.

19. "Kebanyakan wanita itu adalah isi neraka dan kayu api." Hazrat Aishah bertanya, "Mengapa wahai Rasulullah s.a.w.?" Jawab Rasulullah s.a.w.:

i. Kerana kebanyakan perempuan itu tidak sabar dalam menghadapi kesusahan, kesakitan dan cubaan seperti kesakitan melahirkan anak, mendidik anak-anak dan melayani suami serta melakukan kerja-kerja rumah.

ii. Tiada memuji (bersyukur) di atas kemurahan Allah yang didatangkan melalui suaminya. (Jarang terdapat orang perempuan yang mahu mengucapkan terima kasih di atas pemberian suaminya.)

iii. Sering mengkufurkan (ingkar) terhadap nikmat Allah. (Contohnya: Apabila berlaku sesuatu pertengkaran ada isteri yang berkata sudah 10 tahun kahwin dengan awak tidak ada apa-apa pun.)

iv. Gemar bercakap perkara yang sia-sia yang berdosa. (Contohnya: Bercakap mengenai perabot-perabot rumah yang tidak perlu dan mengumpat.)

v. Kurang akal dan kurang ilmu pengetahuannya dalam agama iaitu mereka sering tertipu atau terpengaruh dengan pujuk rayu lelaki,rakan-rakan, alam sekeliling dan suasana serta kemewahan lahiriah.

20. Dari Ali bin Abi Talib r.a.: Aku dengar Rasulullah s.a.w. bersabda, "Tiga golongan dari umatku akan mengisi neraka jahanam selama 7 kali umur dunia. Mereka itu adalah:"

a. Orang yang gemuk tapi kurus
b. Orang yang berpakaian tetapi telanjang
c. Orang yang alim tapi jahil

* Adapun yang gemuk tapi kurus itu ialah wanita yang sihat tubuh badannya tetapi kurang ibadat.
* Orang yang berpakaian tetapi telanjang ialah wanita yang cukup pakaiannya tetapi tidak taat agama.
* Orang yang alim tapi jahil ialah ulama yang menghalalkan yang haram kerana kepentingan peribadi.

21. Asma' binti Karizah Fazari r.ha. diriwayatkan telah berkata kepada puterinya pada hari perkahwinan anaknya itu, "Wahai anakku, kini engkau akan keluar dari sarang di mana engkau dibesarkan. Engkau akan berpindah ke sebuah rumah dan hamparan yang belum engkau kenali. Itulah suami mu. Jadilah engkau tanah bagi suami mu (taat perintahnya) dan ia akan menjadi langit bagi mu (tempat bernaung). Jadilah engkau sebagai lantai supaya ia dapat menjadi tiangnya. Jangan engkau bebani dia dengan berbagai kesukaran kerana itu akan memungkinkan ia meninggalkan mu. Kalau ia mendekatimu, dekatilah ia dan jika ia menjauhi mu maka jauhilah ia dengan baik. Peliharalah benar-benar suami mu itu akan hidungnya, pendengarannya, matanya dan lain-lain. Janganlah pula ia mendengar melainkan yang enak dan janganlah ia melihat melainkan yang indah sahaja pada dirimu.

22. Pesanan Luqman kepada anaknya, "Sepanjang hidupku, aku hanya memilih 8 kalimah dari pusaka para Nabi yang lalu iaitu:"

a. Apabila engkau sedang solat kepada Allah SWT maka jagalah baik-baik fikiran mu.
b. Apabila engkau berada di rumah orang lain, maka jagalah pandangan mu.
c. Apabila engkau berada di tengah-tengah majlis maka jagalah lidah mu.
d. Apabila engkau hadir dalam jamuan makan maka jagalah perangai mu.
e. Ingat kepada Allah SWT
f. Lupakan budi baik mu pada orang lain.
g. Lupakan semua kesalahan orang lain terhadap mu.
h. Ingat kepada mati.

23. Perkara-perkara yang menjadikan wanita itu derhaka kepada suaminya seperti tersebut di dalam kitab Muhimmah:

a. Menghalang suami dari bersuka-suka dengan dirinya sama ada untuk jimak atau menyentuh mana-mana bahagian tubuhnya.
b. Keluar rumah tanpa izin suami sama ada ketika suami ada di rumah atau pun tidak.
c. Keluar rumah kerana belajar ilmu yang bukan ilmu Fardhu Ain.
Dibolehkan keluar untuk belajar ilmu Fardhu Ain jika suaminya tidak mampu mengajar.
d. Enggan berpindah (berhijrah) bersama suaminya.
e. Mengunci pintu, tidak membenarkan suami masuk ke rumah ketika suami ingin masuk.
f. Memasam muka ketika berhadapan dengan suami.
g. Minta talak.
h. Berpaling atau membelakangi suami ketika bercakap.
i. Menyakiti hati suami sama ada dengan perkataan atau perbuatan.
j. Meninggalkan tempat tidur tanpa izin.
k. Membenarkan orang lain masuk ke dalam rumah sedangkan ia tidak disukai oleh suaminya.

24. Wajib bagi wanita:

a. Mengekalkan malu pada suaminya.
b. Merendahkan (menundukkan) mata ketika berpandangan.
c. Mengikut kata-kata dan suruhannya.
d. Dengar dan diam ketika suami berkata-kata.
e. Berdiri menyambut kedatangannya.
f. Berdiri menghantar pemergiannya.
g. Hadir bersamanya ketika masuk tidur.
h. Memakai bau-bauan yang harum untuk suaminya.
i. Membersihkan dan menghilangkan bau mulut untuk suaminya.
j. Berhias ketika hadirnya dan tinggalkan hiasan ketika tiadanya.
k. Tiada khianat ketika tiada suaminya.
l. Memuliakan keluarga suaminya.
m. Memandang pemberian suaminya yang kecil sebagai besar dan berharga.
n. Ketahuilah, syurga dan neraka bagi seorang wanita itu bergantung pada redha atau tidaknya suami padanya.

April 21, 2011

Dilema Perempuan Pengguna Bis Kota

Sore itu seperti sore-sore biasanya di akhir pekan, berada di dalam bis kuning 510 yang akan membawa saya pulang ke rumah tercinta. Ya, rutinitas yang sungguh menyebalkan dan memprihatinkan bukan? Bagaimana tidak, saya harus berdesak-desakan berada dalam kendaraan umum yang sangat tidak manusiawi.

Dengan cuaca panas, pengap di dalam bis yang penuh sesak, penuh berisi beragam orang dari beragam aktivitas. Menghadapi pak kenek bis yang seolah tak punya hati terus saja memasukkan penumpang pada bis yang nyatanya sudah overload ini. Rasanya ingin sekali teriak, ”don’t push me!!!”, lalu terpikir andaikan saya menjadi bunga mawar, pastinya akan baik sekali. Tidak akan ada yang berani mendorong saya, karena pasti akan terkena duri-duri saya yang tajam, Hehehe … khayalan tingkat tinggi nih.

Sejak awal menjadi pengguna bis umum ini, saya sudah punya trik-trik aman agar tidak harus berdesak-desakan dengan penumpang lain, laki-laki khususnya. Namun terkadang trik-trik ini pun bisa meleset, sehingga kadang tetap saja harus berpasrah dengan kondisi yang ada. Yang sangat disayangkan, tidak semua perempuan dapat memosisikan dirinya dengan aman ketika berada dalam bis yang tak berperi-kewanitaan ini. Sungguh miris rasanya jika harus melihat sesama perempuan mengalami pelecehan-pelecehan di dalam bis ini, apalagi perempuan tersebut adalah akhwat yang saya kenal. Harus bagaimanakah kami sebagai perempuan?

Ya. Perempuan. Betapa menjadi seorang perempuan itu penuh fitnah dan ujian bukan?

Teringat ketika membaca shiroh Nabawi, bahwasanya disana jelas, ketika masa jahiliah dulu dimana Nabi Muhammad belum diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak, perempuan berada pada titik terendah. Bayi-bayi perempuan yang lahir merupakan aib bagi keluarga, maka harus dibunuh, dikubur hidup-hidup. Laki-laki berhak menikah dengan berapapun banyaknya perempuan dan dengan siapapun yang dia inginkan, bahkan dengan ibunya atau saudara perempuannya sekalipun. Sungguh perempuan pada masa itu tidak ada nilainya sama sekali.

Lantas hadirlah Rasulullah. Sang rembulan penerang kegelapan. Beliau mengangkat tinggi derajat para perempuan. Maka inilah penyetaraan gender yang sesungguhnya. Dari kerendahan yang sangat, Rasulullah membawa kaum perempuan ke derajat tertinggi. Perempuan kini berhak atas hidupnya sendiri.

Perempuan pun semakin ditinggikan derajatnya dengan turunnya perintah menutup aurat atau berhijab.

"Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang," (QS Al.Ahzab; 59)

Betapa indah dan menyeluruhnya agama Islam ini bukan?

Kembali ke kasus yang saya hadirkan di awal, betapa saat ini perempuan seolah kembali ketitik nol nilainya. Penggunaan kendaraan umum khususnya bis kota yang menyebabkan bercampur baurnya antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim menunjukan kemerosotan nilai tersebut. Perempuan seolah tak diberi pilihan lain dalam masalah ini. Kebutuhan akan berkendara mengharuskan kami wara-wiri pulang pergi dengan kendaraan umum. Terutama bagi para perempuan yang belum bersuami, tidak ada yang siap sedia untuk selalu mengantar-jemputnya ke berbagai tempat. Maka bis kota sebagai sarana transportasi yang tergolong murah meriah selalu menjadi pilihan utama para perempuan.

Yang sangat disayangkan pula adalah kurang pedulinya kaum perempuan terhadap dirinya sendiri. Dengan tidak menjaga auratnya, menggunakan pakaian-pakaian tak layak yang tentu saja akan menggoda para lelaki hidung belang untuk melakuka pelecehan. Sungguh ironis sekali bukan?

Untuk memperbaiki itu semua adalah merupakan PR kita bersama. Masyarakat, aktivis dakwah dan tentu saja pemerintah setempat yang memiliki kewenangan atas segala kebijakan-kebijakan terkait masalah transportasi di negara kita ini.

Dengan menyeimbangan antara usaha memperbaiki akhlak atau moral masyarakat setempat serta didukung oleh kebijakan-kebijakan pemerintah terkait hal-hal tersebut, maka sedikit demi sedikit tindak kriminal dan pelecehan seksual yang ada terhadap perempuan akan dapat dikurangi.

Berkaca dari negara-negara lain, betapa pemerintah kita sudah cukup tertinggal untuk masalah yang satu ini. Pemerintah Malaysia sejak April 2010 sudah menyediakan gerbong khusus perempuan di jalur Kuala Lumpur-Port Klang. Pemberlakuan itu untuk menghormati perempuan muslim. Itu pula yang terjadi di Mumbai, India. Pemerintah kota itu mengadakan bis dan gerbong khusus perempuan sejak tahun 2007. Bahkan di Bangkok, Thailand, pun demikian. Bis khusus perempuan tak hanya melayani rute dalam kota, tetapi juga luar kota. Sedangkan di Jepang, Nepal dan Filipina, pengadaan angkutan khusus perempuan sudah ada sejak lama.

Di Indonesia pun pada awal 2007 silam sudah diadakan launching bis khusus perempuan di Pekanbaru. Namun ini belum berdampak banyak bagi para perempuan, di kota- kota besar khususnya seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, Yogyakarta, yang angka pelecehannya agak tinggi.

So, kami kaum perempuan menanti kebijakan para pemerintah terkait permasalah transportasi ini. Semoga kita semua selalu dalam lindungan dan petunjukNya. Wallahu’alam.

Penulis: Rizki Adawiyah, Mahasiswi Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta (ismikiki. http://punyaadawiyah.blogspot.com)

"Facebook" Kamu, "Harimau" Kamu

Curhat, curhat, share, share lalu tunggu komentar teman, begitulah aktivitas akhwat dan ummahat yang sadar IT. Yap, bagi yang banyak waktu luang, banyak masalah dan pastinya banyak uang amat rentan kecanduan share di jejaring sosial. Tapi, ada aturan main di dunia maya yang sebenarnya mirip aturan di dunia sebenarnya, kenapa saya bilang mirip?

Semua berawal dari fenomena (kegelisahan saya sebenarnya), bahwa ada yang membedakan gaya bersosialisasi di dunia maya dan dunia riil. Paling gampang adalah, ada akhwat atau ummahat yang di dunia riil sangat menjaga pergaulan dengan nonmahrom tapi sayangnya di dunia maya dia punya banyak teman laki-laki nonmahrom yang akan dengan mudahnya nimbrung komentar di tiap statusnya.

Well, kita berjuang ghadul bashor di lingkungan sekitar atau kampus tapi bebas ber “hai” ria di jejaring sosial, buat apa kita diam membisu saat bertemu tapi di jejaring social kita saling curhat, Masya Alloh. Bukankah aturan menjaga muru’ah (kehormatan diri) juga berlaku dimanapun kita berada, termasuk di dunia maya sekalipun. Jika kita bisa mengaplikasikan aturan main menjaga pergaulan dan menjaga izzah di dunia riil, mestinya kita juga bisa dan mau menerapkannya di dunia maya. Bahkan dalam mendakwahi lawan jenispun ada SOP-nya, tidak dengan dalih berdakwah lantas kita terima ikhwan-ikhwan jadi teman “maya” kita.

Saya merasa cemburu saat ada ummahat yang notabene mengerti ajaran menjaga izzah tapi teman nonmahrom di akunnya banyak banget. Tiap update status ikhwan-ikhwan juga ikutan komentar, waduh suaminya apa tidak cemburu ya?. Mengapa aturan menjaga pandangan dan menjaga izzah seolah memudar hanya karena kita tidak ketemu langsung face to face, padahal kalau dipikir, komentar di tiap status kan sama saja dengan kirim SMS, berarti sama saja kita sedang SMS-an dengan nonmahrom, curhat-curhatan dan cekakak cekikik bukan dengan suami kita?. Termasuk memajang foto tercantik kita yang dapat dilihat dengan mudahnya oleh ikhwan nonmahrom, sebaiknya dihindari, hatta dalam foto itu kita memakai cadar.

Semua itu untuk menjaga agar kita tidak menjadi fitnah (ujian dan cobaan) bagi orang lain, tidakkah terpikir oleh kita, bisa jadi foto kita tengah dikagumi oleh laki-laki bukan mahrom kita atau suami wanita lain. Ahsan, foto cantik kita digantikan simbol seperti bunga dan pemandangan untuk menjaga hati siapapun yang melihatnya. Bukankah syariat kita menjaga dan menutup celah bagi timbulnya kerusakan, sekecil apapun.

Poin penting dalam berjejaring sosial adalah kita harus merasa bahwa Alloh pasti sedang mengawasi tiap gerak-gerik kita, jadi mari kita terapkan sikap cerdas dalam memilah dan memilih teman. Jika ia bukan mahrommu, sebaiknya tidak berteman dengannya karena manusia adalah tempatnya khilaf dan kita tahu betul bahwa hati wanita mudah goyah (paling terasa saat haid, jadi gampang moody). Apalagi kembali merajut pertemananan dengan mantan atau seseorang yang pernah kita suka, ini big NO, NO deh! Hindari sekuat mungkin meng-add-nya. Insya Alloh, berteman dengan wanita saja atau mahrom kita, pasti jauh lebih menenangkan jiwa dan tentunya jika dibarengi niat untuk saling amar ma’ruf nahi munkar akan mendapat pahala, Insya Alloh.

Marilah akhwat dan ummahat yang baik nan salihah, tetap jaga kehormatan kita dimanapun dan kapanpun plus berhati-hati dalam bersikap maupun bertutur. Seperti yang pernah dilansir sebuah situs ternama bahwa penyebab tertinggi perceraian di Jawa Barat adalah akibat Facebook.

Jejaring sosial merk apapun tergantung pemakainya, jika pemakainya cerdas maka ia sukses memiliki jaringan (terutama bagi yang berjualan via OS), tapi jika memperturutkan hawa nafsu dan tak berilmu maka jejaring sosial hanya akan menjadi jurang gelap berbuah sesal dan dosa, Naudzubillahi min Dzalik. Wallahu a’lam.

(Penulis: Dian, ibu rumah tangga tinggal di Ambon)

Menjadi Pribadi Luar Biasa, Tak Perlu Sama

“Akhwat kok ngebut ?!” begitulah komentar seorang ikhwan, saat melihat seorang perempuan berkerudung lebar melintas dengan cepat, mendahului laju motornya.

Ada juga yang berkomentar, “Kok yang jadi pembicara akhwat ya? Pesertanya kan ada ikhwan juga ....” sela seorang peserta training kepemimpinan ketika mendapati situasi yang berbeda dari yang biasa dialaminya.

Sempat pula kudengar seorang adik tingkat berkata, "Mbk, si A itu kok kalem banget sih … kan jadi terlihat lemah gitu di hadapan ikhwan…" Dan komentar lainnya. Bingung mendengar komentar-komentar itu ?

Mungkin saja kita jadi bingung bila mendengar komentar-komentar seperti itu. Ya, suatu sudut pandang yang berbeda dalam menilai sesuatu. Apalagi jika bersangkutan dengan yang namanya “akhwat”. Wanita yang berusaha menjalankan aturan sesuai syariat, tak jarang mendapat komentar dari kanan-kirinya.

Bagi sebagian besar orang, yang namanya akhwat itu harus identik dengan sifat lembut, kalem, tidak bicara kasar, menjaga sopan santun, dan lain sebagainya. Kalau mengenai ikhwan … ya, seorang yang identik dengan sifat tegas, pandai orasi, berwibawa, dan lain-lain. Pantas saja kalau sebagian orang terheran-heran ketika ada seorang akhwat yang punya sifat “nyentrik", dan menjadi kaget melihat ikhwan yang punya sifat lemah lembut.

Ingatkah kita kisah teladan dari Rasulullah SAW dan para sahabat. Mereka adalah sosok yang mengagumkan. Bahkan 10 diantaranya dijamin masuk surga. Ada juga empat pemimpin kaum Hawa di Jannah-Nya kelak, mereka berasal dari negeri yang berbeda-beda, dengan adat/kebiasaan yang berbeda, dengan sifat yang berbeda pula.

Rasulullah SAW adalah seorang yang paling lembut terhadap istri dan anak-anaknya, sangat sopan terhadap para sahabat/shobiyahnya. Bahkan pada seorang kafir buta yang sudah tua. Seiap hari beliau menyuapi orang kafir yang buta ini, sampai beliau wafat. Saat Abu Bakar menggantikannya untuk menyuapi orang buta itu, ia bisa dengan mudah membedakannya. Tapi, Rasulullah SAW adalah orang pertama yang “tidak terima” saat kaum kafir memusuhi Islam. Sikapnya begitu tegas dan keras saat musuh-musuh Islam itu merajalela.

Ingatkah engkau dengan sosok Abu Bakar? Sosok ikhwan yang sangat menjaga kesopanan, lemah lembut terhadap sesamanya. Dari segi fisik, beliau adalah seorang yang bertubuh kurus, sampai celananyapun sering kedodoran. Walau beliau banyak harta, tapi tak menghalanginya untuk menjauhkan lambung dari tempat tidurnya.

Beda lagi dengan Umar bin Khatab. Secara fisik, sosoknya tinggi besar, kekar, dan besar. Sifatnya sangat tegas. Tapi tak jarang beliau ditemukan dalam keadaan menangis tersedu dalam salat, bahkan sampai pingsa. Sosok yang selalu ingin bersaing dengan Abu Bakar ini, tak jenuh menanyakan pada Rasulullah SAW tentang apa-apa yang bisa membuatnya lebih dekat dengan Allah SWT.

Ustman bin Affan, seorang ikhwan hartawan yang sangat pemalu, bahkan malaikat pun malu pada beliau. Tak enggan memberikan harta di jalan Allah, itulah karakteristiknya.

Lain lagi dengan Ali bin Abi Thalib. Beliau seorang pemuda yang sangat bersahaja. Pemuda pertama yang memeluk agama Islam. Pemuda yang sangat menjaga hati terhadap lawan jenisnya, saampai Allah ‘menghadiahkan’ sosok lembut Fatimah binti Muhammad sebagai pendamping hidupnya. Walau keduanya sudah "ada rasa" sebelumnya, tapi mereka berusaha untuk tidak mengekspresikan sebelum saatnya tiba. Subhanallah ....

Ummahatul Mukminin, para wanita yang mendapat kehormatan mendampingi Rasulullah SAW, wanita dengan karakter luar biasa. Mereka semua memiliki karakter berbeda-beda dan memiliki keunggulannya masing-masing. Semua punya keunggulan amal, punya akhlak mulia yang luar biasa.

Siti Khadijah, sosok keibuan yang tiada bandingnya di hati Rasulullah SAW. Bahkan Rasul-pun sering menyebut namanya walau beliau sudah tiada hingga Aisyah cemburu dibuatnya. Khadijah adalah sosok penuh pesona, walaupun beliau seorang janda, seorang hartawan dan bangsawan, tapi tak membuatnya bimbang untuk menyerahkannya demi ke-muntijah-an Islam.

Aisyah adalah osok wanita dengan kedalaman ilmu yang sangat luar biasa. Bahkan seorang sahabat berkata, "Kalau ilmu Aisyah ditukar dengan ilmu para wanita di dunia, niscaya tidak sebanding dengannya. Hafalan hadisnya tidak perlu diragukan, kepandaiannya dalam ilmu kedokteran dan sastra, tidak perlu disangkal.

Hafshah binti Umar adalah seorang pemelihara al-Quran. Ummu Salamah dalah istri Rasulullah SAW yang pertama masuk Madinah. Ummu Habibah adalah mukminah yang amat setia terhadap agamanya. Juwairiyah binti Al-Harist adalah wanita pembawa berkah besar bagi kaumnya.

Para shohabiyah-pun tak perlu diragukan lagi. Asma’ binti Abu Bakar ialah Sang pemilik dua ikat pinggang. Ummu Khultsum binti Ali ialah bidan muslimah pertama. Sumayyah binti Khayyath ialah Syahidah pertama dalam Islam. Ummu ‘Umarah ialah prajurit mukminah.

Dan masih banyak lagi ...

Pertanyaannya sekarang, bagaimana dengan kita ? Silakan memilih teladan yang paling dikagumi, karakter yang paling sesuai diterapkan dengan diri pribadi. Jangan sampai tidak memilih sama sekali, begitu sindiran seorang ustadz.

Kawan, sekali lagi, mencontoh bukan berarti harus sama, kita tetap bisa menjadi diri sendiri, tinggal mengoptimalkan untuk berjuang meraih ridha-Nya. Sungguh, masing-masing dari kita pasti memiliki kecenderungan yang berbeda, punya sifat yang tidak sama, punya amal unggulan yang berbeda, asalkan tidak melanggar syariat-Nya.

Malu rasanya diri ini mengingat pribadi-pribadi yang luar biasa, yang saya sebutkan di atas. Ada teman yang sangat mendahulukan salat di awal waktu dengan berjamaah, ada yang senang membangunkan teman kos untuk salat malam, mengirim SMS tausiyah berkesinambungan, puasa senin-kamis yang selalu dilaksanakan, hafalan Quran yang sungguh mengagumkan, karakter yang sangat pandai menyemangati para stafnya, sosok tak kenal lelah yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, salat Dhuha yang tak pernah ditinggalkannya. Ada akhwat yang sangat sopan dalam berkata-kata, ada pula yang dengan semangat mengutarakan ide gagasannya. Ada ikhwan yang sangat tegas walau dalam keadaan bercanda, ada pula yang sangat sopan dan menjaga tata krama.

Semua karakter itu, semua sifat itu, adalah anugerah dari Allah untuk kita. Seorang yang pandai berorasi, sangat tepat ditempatkan di barisan terdepan saat aksi. Seorang yang pandai dalam interpreneur, sangat diperlukan dalam menyokong dana. Seorang konseptor, sangat diperlukan utk menyumbangkan ide dan gagasannya demi kegiatan yang tepat sasaran. Seorang yang ahli dalam kerja-kerja teknis, sangat diperlukan untuk merealisasikan konsep yang cemerlang. Seorang yang ‘pelit’, sangat cocok ditempatkan pada posisi bendahara. Seorang yang senang shopping dan wisata kuliner, pasti tepat ditempatkan di bagian konsumsi. Seorang yang hobi berpetualang, akan cocok untuk menentukan tempat yang tepat untuk sebuah kegiatan. Bahkan, seorang yang suka kebut-kebutan, akan sangat diperlukan untuk menjemput pembicara.

Dari sisi kelemahan, selalu ada sisi kebaikan. Maka, dalam barisan kebaikan ini, tiada yang sia-sia. Allah Swt. menciptakan semua perbedaan itu agar kita saling menguatkan. Bukankah sebuah taman akan tampak lebih indah dengan bunga-bunga dan kupu-kupu yang berbeda-beda warnanya?

Penulis: Megawati Dharma Iriani

Maret 23, 2009

10 Alasan tidak berjilbab

Sepuluh Alasan Untuk Tidak Memakai Jilbab
Oleh : Dr. Huwayda Ismaeel (Diterjemahkan dari artikel berbahasaInggris)

ALASAN I : Saya belum benar-benar yakin akan fungsi/kegunaan jilbabKami kemudian menanyakan dua pertanyaan kepada saudari ini;
Pertama,apakah ia benar-benar percaya dan mengakui kebenaran agama Islam?Dengan alami ia berkata, Ya, sambil kemudian mengucap Laa Ilaa haIllallah! Yang menunjukkan ia taat pada aqidahnya dan Muhammadanrasullullah! Yang menyatakan ia taat pada syariahnya. Dengan begitu iayakin akan Islam beserta seluruh hukumnya. Kedua, kami menanyakan;Bukankah memakai jilbab termasuk hukum dalam Islam? Apabila saudariini jujur dan dan tulus dalam ke-Islamannya, ia akan berkata; Ya, ituadalah sebagian dari hukum Islam yang tertera di Al-Quran suci danmerupakan sunnah Rasulullah SAWW yang suci. Jadi kesimpulannya disini,apabila saudari ini percaya akan Islam dan meyakininya, mengapa iatidak melaksanakan hukum dan perintahnya?
ALASAN II : Saya yakin akan pentingnya jilbab namun Ibu sayamelarangnya, dan apabila saya melanggar ibu, saya akan masuk neraka.
Yang telah menjawab hal ini adalah ciptaan Allah Azza wa Jallatermulia, Rasulullah SAWW dalam nasihatnya yang sangat bijaksana;"Tiada kepatuhan kepada suatu ciptaan diatas kepatuhan kepada AllahSWT." (Ahmad) Sesungguhnya, status orangtua dalam Islam, menempatiposisi yang sangat tinggi dan terhormat. Dalam sebuah ayat disebutkan;"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan- Nya dengansesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang Ibu Bapak . . "(QS. An-Nisa:36). Kepatuhan terhadap orangtua tidak terbatas kecualidalam satu aspek, yaitu apabila berkaitan dengan kepatuhan kepadaAllah SWT. Allah berfirman; " dan jika keduanya memaksamu untukmempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmutentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya…(QS. Luqman : 15)Berbuat tidak patuh terhadap orangtua dalam menjalani perintah AllahSWT tidak menyebabkan kita dapat berbuat seenaknya terhadap mereka.Kita tetap harus hormat dan menyayangi mereka sepenuhnya. Allahberfirman di ayat yang sama; "dan pergaulilah keduanya di dunia denganbaik. Kesimpulannya, bagaimana mungkin kamu mematuhi ibumu namunmelanggar Allah SWT yang menciptakan kamu dan ibumu.
ALASAN III : Posisi dan lingkungan saya tidak membolehkan sayamemakai jilbab.Saudari ini mungkin sati diantara dua tipe: dia tulus dan jujur,atau sebaliknya, ia seorang penipu yang mengatasnamakan lingkunganpekerjaannya untuk tidak memakai jilbab. Kita akan memulai denganmenjawab tipe dia adalah wanita yang tulus dan jujur. "Apakah andatidak tidak menyadari saudariku tersayang, bahwa wanita muslim tidakdiperbolehkan untuk meninggalkan rumah tanpa menutupi auratnya denganhijab dan adalah kewajiban bagi setiap muslim untuk mengetahuinya?Apabila engkau, saudariku, menghabiskan banyak waktu dan tenagamuuntuk melakukan dan mempelajari berbagai macam hal di dunia ini,bagaimana mungkin engkau dapat sedemikian cerobohnya untuk tidakmempelajari hal-hal yang akan menyelamatkanmu dari kemarahan Allah dankematianmu?" Bukankah Allah SWT telah berfirman; "maka bertanyalahkepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui(QS An-Nahl : 43). Belajarlah untuk mengetahui hikmah menutup auratmu.Apabila kau harus keluar rumahmu, tutupilah> auratmu dengan jilbab, carilah kesenangan Allah SWT daripadakesenangan syetan. Karena kejahatan dapat berawal dari pemandanganyang memabukkan dari seorang wanita.Saudariku tersayang, apabila kau benar-benar jujur dan tulus dalammenjalani sesuatu dan berusaha, kau akan menemukan ribuan tangankebaikan siap membantumu, dan Allah SWT akan membuat segalapermasalahan mudah untukmu. Bukankah Allah SWT telah berfirman;"Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakanbaginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiadadisangka-sangkanya. ."(QS. AtTalaq :2-3). Kedudukan dan kehormatanadalah sesuatu yang ditentukan oleh Allah SWT. Dan tidak bergantungpada kemewahan pakaian yang kita kenakan, warna yang mencolok, dan mengikuti trend yang sedang berlaku. Kehormatan dankedudukan lebih kepada bersikap patuh pada Allah SWT dan Rasul-NyaSAWW, dan bergantung pada hukum Allah SWT yang murni. Dengarkanlahkalimat Allah; sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang paling bertakwa diantara kamu.."(QS.Al-Hujurat:13) .Kesimpulannya, lakukanlah sesuatu dengan mencarikesenangan dan keridhoan Allah SWT, dan berikan harga yang sedikitpada benda-benda mahal yang dapat menjerumuskanmu.
ALASAN IV : Udara di daerah saya amatlah panas dan saya tidak dapat menahannya. Bagaimana mungkin saya dapat mengatasinya apalagi jikasaya memakai jilbab.
Allah SWT memberikan perumpamaan dengan mengatakan; "api nerakajahannam itu lebih lebih sangat panas(nya) jikalau merekamengetahui.. "(QS At-Taubah : 81)Bagaimana mungkin kamu dapatmembandingkan panas di daerahmu dengan panas di neraka jahannam?Sesungguhnya saudariku, syetan telah mencoba membuat talli besar untukmenarikmud ari panasnya bumi ini kedalam panasnya suasana neraka.Bebaskan dirimu dari jeratannya dan cobalah untuk melihat panasnyamatahari sebagai anugerah, bukan kesengsaraan. Apalagi mengingat bahwaintensitas hukuman dari Allah SWT akan jauh lebih berat dari apa yangkau rasakan sekarang di dunia fana ini. Kembalilah pada hukum AllahSWT dan berlindunglah dari hukuman-Nya, sebagaimana tercantum dalamayat; "mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pulamendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah"(QS. AN-NABA78:24-25). Kesimpulannya, surga yang Allah SWT janjikan, penuh dengancobaan dan ujian. Sementara jalan menuju neraka penuh> dengan kesenangan, nafsu dan kenikmatan.
ALASAN V : Saya takut, bila saya memakai jilbab sekarang, di lainhari saya akan melepasnya kembali, karena saya melihat banyak sekaliorang yang begitu.
Kepada saudari itu saya berkata, "apabila semua orangmengaplikasikan logika anda tersebut, mereka akan meninggalkan seluruhkewajibannya pada akhirnya nanti! Mereka akan meninggalkan shalat limawaktu karena mereka takut tidak dapat melaksanakan satu saja waktushalat itu. Mereka akan meninggalkan puasa di bulan ramadhan, karenamereka tekut tidak dapat menunaikan satu hari ramadhan saja di bulanpuasa, dan seterusnya. Tidakkah kamu melihat bagaimana syetan telahmenjebakmu lagi dan memblokade petunju bagimu? Allah SWT menyukaiketaatan yang berkesinambungan walaupun hanya suatu ketaatan yangsangat kecil atau dianjurkan. Lalu bagaimana dengan sesuatu yangbenar-benar diwajibkan sebagaimana kewajiban memakai jilbab?Rasulullah SAW bersabda; "Perbuatan yang paling dicintai Allah adalahperbuatan mulia yang terus menerus, yang mungkin orang lain anggapkecil." Mengapa kamu saudariku, tidak melihat alasan mereka yangdibuat-buat untuk menanggalkan kembali jilbab mereka dan> menjauhi mereka? Mengapa tidak kau buka tabir kebenaran danberpegang teguh padanya? Allah SWT sesungguhnya telah berfirman; "makakami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang dimasa itu,dan bagi mereka yang datang di masa kemudian, serta menjadi pelajaranbagi orang-orang yang bertakwa"(QS. AL BAQARAH 2:66) Kesimpulannya,apabila kau memgang teguh petunjuk dan merasakan manisnya keimanan,kau tidak akan meninggalkan sekali pun perintah Allah SWT setelah kaumelaksanakannya.
ALASAN VI : Apabila saya memakai jilbab, maka jodohku akan sulit,jadi aku akan memakainya nanti setelah menikah.
Saudariku, suami mana pun yang lebih menyukaimu tidak memakai jilbabdan membiarkan auratmu di depan umum, berarti dia tidak mengindahkanhukum dan perintah Allah SWT dan bukanlah suami yang berharga sejaksemula. Dia adalah suami yang tidak memiliki perasaan untuk melindungidan menjaga perintah Allah SWT, dan jangan pernah berharap tipe suamiseperti ini akan menolongmu menjauhi api neraka, apalagi memasukisurga Allah SWT. Sebuah rumah yang dipenuhi dengan ketidak-taatankepada Allah SWT, akan selalu menghadapi kepedihan dan kemalangan didunia kini dan bahkan di akhirat nanti. Allah SWT bersabda; "danbarangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginyapenghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada harikiamat dalam keadaan buta"(QS. TAHA 20:124) Pernikahan adalah sebuahpertolongan dan keberkahan dari Allah SWT kepada siapa saja yang Iakehendaki. Berapa banyak wanita yang ternyata menikah sementara merekayang tidak memakai jilbab tidak?Apabila kau, saudariku tersayang, mengatakan bahwaketidak-tertutupanm u kini adalah suatu jalan menuju sesuatu yangmurni, asli, yaitu pernikahan. Tidak ada ketertutupan. Saudariku,suatu tujuan yang murni, tidak akan tercapai melalui jalan yang tidakmurni dan kotor dalam Islam. Apabila tujuannya bersih dan murni, sertaterhormat, maka jalan menuju kesana pastilah harus dicapai denganbersih dan murni pula. Dalam syariat Islam kita menyebutnya : Alatatau jalan untuk mencapai sesuatu, tergantung dari peraturan yang adauntuk mencapai tujuan> tersebut. Kesimpulannya, tidak ada keberkahan dari suatu perkawinanyang didasari oleh dosa dan kebodohan.
ALASAN VII : Saya tidak memakai jilbab berdasarkan perkataan AllahSWT : "dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)"( QS.Ad-Dhuhaa 93: 11).
Bagaimanamungkin saya menutupi anugerah Allah berupa kulit mulus dan rambutkuyang indah?Jadi saudari kita ini mengacu pada Kitab Allah selama itu mendukungkepentingannya dan pemahamannya sendiri ! ia meninggalkan tafsirsesungguhnya dibelakang ayat itu apabila hal itu tidakmenyenangkannya. Apabila yang saya katakan ini salah, mengapa saudarikita ini tidak mengikuti ayat : "janganlah mereka menampakkanperhiasannya kecuali yang nampak daripadanya" (QS An-Nur 24: 31] dansabda Allah SWT: "katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anakperempuanmu dan istri-istri orang mukmin; hendaklah mereka mengulurkanjilbabnya.." (QS Al-Ahzab 33:59). Dengan pernyataan darimu itu,saudariku, engkau telah membuat syariah sendiri bagi dirimu, yangsesungguhnya telah dilarang oleh Allah SWT, yang disebut at-tabarrujdan as-sufoor. Berkah terbesar dari Allah SWT bagi kita adalah imandan hidayah, yang diantaranya adalah menggunakan hijab. Mengapa kamutidak mempelajari dan menelaah anugerah terbesar bagimu ini?Kesimpulannya, apakah ada anugerah dan pertolongan terhadap wanita yang> lebih besar daripada petunjuk dan hijab?
ALASAN VIII : Saya tahu bahwa jilbab adalah kewajiban, tapi sayaakan memakainya bila saya sudah merasa terpanggil dan diberi petunjukoleh-Nya.
Saya bertanya kepada saudariku ini, rencana atau langkah apa yang ialakukan selama menunggu hidayah, petunjuk dari Allah SWT seperti yangdia katakan? Kita mengetahui bahwa Allah SWT dalam kalimat-kalimatbijak-Nya menciptakan sebab atau cara untuk segala sesuatu. Itulahmengapa orang yang sakit menelan sebutir obat untuk menjadi sehat, dansebagainya. Apakah saudariku ini telah dengan seluruh keseriusan danusahanya mencari petunjuk sesungguhnya dengan segala ketulusannya,berdoa, sebagaimana dalam surah Al-Fatihah 1:6 "Tunjukilah kami jalanyang lurus" serta berkumpul mencari pengetahuan kepadamuslimah-muslimah lain yang lebih taat dan yang menurutnya telahdiberi petunjuk dengan menggunakan jilbab? Kesimpulannya, apabilasaudariku ini benar-benar serius dalam mencari atau pun menunggupetunjuk dari Allah SWT, dia pastilah akan melakukan jalan-jalanmenuju pencariannya itu.
ALASAN IX : Belum waktunya bagi saya. Saya masih terlalu muda untukmemakainya. Saya pasti akan memakainya nanti seiring dengan penambahanumur dan setelah saya pergi haji.
Malaikat kematian, saudariku, mengunjungi dan menunggu di pintumukapan saja Allah SWT berkehendak. Sayangnya, saudariku, kematian tidakmendiskriminasi antara tua dan muda dan ia mungkin saja datang disaatkau masih dalam keadaan penuh dosa dan ketidaksiapan Allah SWTbersabda; "tiap umat mepunyai batas waktu; maka apabila telah datangwaktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dantidak dapat (pula) memajukannya" (QS Al-An'aam 7:34] saudarikutersayang, kau harus berlomba-lomba dalam kepatuhan pada Allah SWT;"berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dansurga yang luasnya seluas langit dan bumu.."(QS Al-Hadid 57:21)saudariku, jangan melupakan Allah SWT atau Ia akan melupakanmu didunia ini dan selanjutnya. Kau melupakan jiwamu sendiri dengan tidakmemenuhi hak jiwamu untuk mematuhi-Nya. Allah mengatakan tentangorang-orang yang munafik, "dan janganlah kamu seperti orang-orang yanglupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka> lupa kepada diri mereka sendiri" (QS Al-Hashr 59: 19) saudariku,memakai jilbab di usiamu yang muda, akan memudahkanmu. Karena AllahSWT akan menanyakanmu akan waktu yang kau habiskan semasa mudamu, dansetiap waktu dalam hidupmu di hari pembalasan nanti.Kesimpulannya ,berhentilah menetapkan kegiatanmu dimasa datang, karena tidak seorangpun yang dapat menjamin kehidupannya hingga esok hari.
ALASAN X : Saya takut, bila saya memakai jilbab, saya akan di-capdan digolongkan dalam kelompok tertentu! Saya benci pengelompokan!
Saudariku, hanya ada dua kelompok dalam Islam. Dan keduanyadisebutkan dalam Kitabullah. Kelompok pertama adalah kelompok /tentara Allah (Hizbullah) yang diberikan pada mereka kemenangan,karena kepatuhan mereka. Dan kelompok kedua adalah kelompok syetanyang terkutuk (hizbush-shaitan) yang selalu melanggar Allah SWT.Apabila kau, saudariku, memegang teguh perintah Allah SWT, danternyata disekelilingmu adalah saudara-saudaramu yang memakai jilbab,kau tetapi akan dimasukkan dalam kelompok Allah SWT. Namun apabila kaumemperindah nafsu dan egomu, kau akan mengendarai kendaraan Syetan,seburuk-buruknya teman.
KESIMPULAN
Tubuhmu, dipertontonkan di pasar para syetan dan merayu hati parapria Model rambut, pakaian ketat yang mempertontonkan setiap detailtubuhmu, pakaian-pakaian pendek yang menunjukkan keindahan kakimu, dansemua yang dapat membangkitkan amarah Allah SWT dan menyenangkansyetan. Setiap waktumu yang kau habiskan dalam kondisi ini, akan terussemakin menjauhkanmu dari Allah SWT dan semakin membawamu lebih dekatpada syetan. Setiap waktu kutukan dan kemarahan menuju kepadamu darisurga hingga kau bertaubat. Setiap hari membawamu semakin dekat kepadakematian. "tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dansesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, makasungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain darikesenangan yang memperdayakan" (QS Ali `Imran 3:185).
Naikilah kereta untuk mengejar ketinggalan, saudariku, sebelumkereta itu melewati stasiunmu. Renungkan secara mendalam, saudariku,apa yang terjadi hari ini sebelum esok datang. Pikirkan tentang halini, saudariku, sekarang, sebelum semuanya terlambat !
Diposkan oleh ridwansyah yusuf achmad