Juli 13, 2012

Memaknai Ramadhan


Ramadhan juga mahal dari sudut sejarah, sebab pada awalnya Ramadhan ini adalah bulan hadiah terkait dengan terbatasnya umur ummat Muhammad saw dan lemahnya fisik ummat akhir zaman, karena itu ada konsep rukshah dalam puasa bahkan dijadikan sebagai tebusan kesalahan (kaffarah), di mana hal ini tidak terdapat dalam syari'at Nabi terdahulu. Dengan malam 1.000 bulan yang mampu membayar 83 tahun usia semakin menambah mahal nilai puasa Ramadhan, yang selayaknya memacu kita untuk tidak melewatkan detik-detik Ramadhan berlalu begitu saja.  
Ketika Ramadhan Menjelang 
     Para ahli ilmu menyimpulkan dari hadits-hadits shahih tentang datangnya Ramadhan, seperti âtakum ramadhân syahrun mubârak, idzâ kânat awwalu laylah min ramadhân  (Shahihul Jami' No.:55,759) bahwa boleh hukumnya mengadakan acara persiapan menyambut bulan suci Ramadhan dalam rangka semarak syi'ar dan gaung syari'at. Saling berkirim tahni'ah (menyapa), menjalin silaturahim dan tali kekerabatan, termasuk berbagi sedekah pada mustahiq-nya. Persiapan ini penting, untuk menyambut  tamu  agung Ramadhan pembawa nikmat; nikmat pahala, maghfirah,  rezeki  dan  kemudahan urusan. Di sinilah  Ramadhan  bisa kita harapkan menjadi medan pembebasan yang  paling ampuh dari jilatan api neraka, di mana  semua  orang  tak ada  yang  luput  dari  jilatannya.  
(Q.S. Maryam [19]:71-72).
    Imam Ibnu Qudamah, faqih Hanabilah kelahiran Palestina dalam Juz III Al Mughni membolehkan. Demikian pula, Imam Ibnu Rajab dalam Latha'iful Ma'arif-nya. Syaikh Fauzan dalam Al Muntaqa-nya, membolehkan dengan alasan keumuman surat Yunus [10]:58 didukung prilaku salafus-shalih. Ucapan selamatnya Thalhah bin Ubaidillah  t terhadap Ka'ab bin Malik dan dua sahabatnya  terkait diterimanya  tobat  ketiga  sahabat  ini seperti  dikisahkan  dalam  surah  at Taubah dan as-Shahihaein membuat  Imam   Ibnul   Qayyim   Al Jauziyah berkesimpulan serupa, yaitu boleh, dan tidak mengapa.
 
    Persiapan Ramadhan menjadi penting dalam upaya menertibkan simbol-simbol kesyirikan dan kemaksiatan sebagai realisasi dari hadits "wa shuffidati's-syayâthîn"  (dan syetan-syetan pun dirantai). Pemerintah sebagai ulil-'amri dengan dukungan masyarakat luas dan dunia usaha agar menghormati kesucian bulan ramadhan. Dari pengalaman beberapa kasus, tidak jarang terjadi kesalah-pahaman penguasa hiburan ketika masyarakat bertindak untuk mengawal Perda No 10 Tahun 2004 dan Surat Keputusan (SK) Gubernur DKI Jakarta No 98 Tahun 2004, di mana klub-klub malam, diskotik, tempat judi, tempat mesum dan sejenisnya harus ditutup. 
Kesiapan Konsepsional
     Seperti diketahui, Ramadhan ini datang membawa banyak makna. Ramadhan ingin mewarnai kita, ingin men-sibghah para sha'imin. Warna apa yang kita inginkan, apa standar target yang kita mau, semuanya bergantung pada konsep yang kita pahami tentang Ramadhan. Inilah yang disebut oleh Imam Bukhari (194-256 H) dalam kitab Shahihnya dengan al-'ilmu qablal-qauli wal-'amal, ilmu sebelum berkata dan berbuat. Atau imanan wahtisaban dalam hadits-hadits puasa. 
    Dengan konsepsi dasar ini para sha'imin bisa melakukan revolusi nilai, yaitu menyulap haus dan lapar menjadi obat, kurang tidur seperti ribath fisabilillah, infaq sedekah menjadi investasi akhirat. Dengan konsep dasar ini juga para sha'imin melakukan adaptasi keutamaan, bahwa se-liar apapun nafsu seseorang harus tunduk pada aturan Ramadhan. Termasuk bagaimana membuang malas  dengan  tekun  (al-judd), menyulap bosan dengan semangat (al-hirsh), lesu dengan gairah (ghirah) dan seterusnya. Ramadhan harus mendikte nafsu dan membalutnya dengan paket amaliah, amalan seribu bulan.

    Setelah kesiapan konsepsional sebagai bentuk pengamalan al-ilmu qablal 'amal tadi, persiapan selanjutnya yang tidak bisa kita remehkan adalah al-ikhlash wal-ittiba'. Sebab tidak sedikit orang shalih mengeluh terhadap sulitnya melaksanakan bab niat. Campur tangan syetan dalam merayu orang mu'min, mencemarkan dan menebarkan virus syahwat dan syubhat ikut memperparah sulitnya mendapatkan ilmu ikhlas dalam ibadah. Imam Ibnu Abi Syaibah pada Juz-8 kitab Al-Mushannaf-nya menceritakan Umar bin Khatthab ra pernah mendengar untaian do'a seorang Sahabat, "Allahumma'j-'alni mina'l-qalil," Ya Allah kumpulkan aku bersama golongan hamba-Mu yang sedikit. Mendengar do'a orang ini Khalifah Umar t terkejut, beliau bertanya, "ma hadza'd-du'a ?, Apa maksud do'amu itu? Sahabat itu menjawab, maksud do'aku itu adalah firman Allah Ta'alaa : wa qalilun min 'ibadiya's-syakur (Q.S. Saba' [34]:13). 

Paket Amaliah Ramadhan 
    Detik-detik Ramadhan yang sangat berharga ini harus dipergunakan seoptimal mungkin, dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. Sebab Ramadhan itu adalah ayyâman ma'dûdât, waktunya cuma 29 atau 30 hari. Menjadikan Ramadhan sebagai madrasah taqwa, musim pahala dan ampunan dengan berbagai paket program yang sudah disusun oleh ahlul ilmi harus mendapat support dari jama'ah masjid dan rumah tangga muslim.
      Rasulullah saw sendiri  dalam   9 kali Ramadhan, tak pernah sedetik pun menyia-nyiakan peluang emas Ramadhan. Ketekunan Rasulullah dalam amaliah Ramadhan mengalahkan kencangnya tiupan angin. Rasulullah saw adalah ajwadun-nass bil-khair, khususnya di bulan suci Ramadhan. Nabi tadarus Qur'an bersama malaikat Jibril,  Nabi saw menjemput lailatul Qadar dengan I'tikaf di masjid, bahkan sampai 20 hari di tahun wafatnya. Nabi saw bahkan berperang dan meraih banyak kemenangan dalam bulan Ramadhan. Diriwayatkan oleh 'Aisyah g, bahwa para Sahabat jika masuk bulan Ramadhan membebaskan tawanan dan berbagi rezki pada fakir miskin yang wujudnya pada hari ini bisa dalam bentuk sedekah awal puasa, acara buka puasa bersama, sahur bersama, saling tukar ta'jilan dengan tetangga, hadiah lebaran dan sejenisnya.
     Jadi tidak berlebihan jika dikatakan bahwa posisi Ramadhan melebihi obat bagi pasien, air bagi ikan, udara bagi makhluk hidup, hujan bagi petani. Yang kumpulan airnya  akan  berlalu  begitu  saja  jika tidak segera dibendung, dialirkan, dan dimanfaatkan biar menumbuhkan benih-benih kebaikan baru. Berbuah taqwa seperti yang menjadi pembuka dan penutup ayat puasa di Al Baqarah:183 dan 187, la'allakum tattaqun dan la'allahum yattaqun. Sungguh sangat celaka dan sangat merugi sekali, mereka yang masih punya umur bertemu Ramadhan, tapi menyia-nyiakan turunnya ampunan Allah. Saat itu Nabi saw naik mimbar, beliau bersabda: "Malaikat Jibril baru saja mendatangiku, ia berkata: malang nian orang yang mendapati Ramadhan, sedang ia tidak dapat bagian apa-apa, dalam riwayat lain, ia tidak dapat ampunan dan perlindungan dari jilatan api neraka." (Shahih Targhib:997,1679,2491). Marhaban Ya Ramadhan

ditulis oleh;
Abu Taw Jieh Rabbani 
Anggota Dewan Majlis Fatwa Dewan Da'wah Pusat 
dewandakwahjakarta.or.id

Juli 07, 2012

Sedap Malam


Yap, Bunga yang satu ini namanya Bunga Sedap malam. Sesuai dengan namanya bunga ini harum semerbak saat malam. Tapi tak boleh lupa, anda harus memetiknya saat sudah ada mekar, selain itu bunga ini mampu bertahan sampai tujuh hari baru layu.Untuk menikmati wanginya anda bisa menaruh di sudut kamar anda.
Jadilah pengharum ruangan yang alami.

Untuk pembenihannya pun tidak sulit, cukup anda siapkan media tanam pupuk organik : tanah = 1: 2, siram setiap pagi. Bunga ini juga bisa menanamnya langsung dilahan. 
Mudahkan...

_Mari Menanam_

Taman Bunga Lotus


Lotus (teratai ) adalah jenis bunga yang tumbuh liar di parit-parit atau sungai. Kebetulan kemarin saya diajak suami berkunjung kelahan pertanian dimana suami melakukan pendampingan. Lokasi yang kami tuju tidak terlalu jauh dari rumah kami. Hanya butuh waktu sekitar 20 menit. Daerah itu namanya Parit Solo, sebuah perkampungan Transmigran dari Jawa Tengah.

Sepanjang perjalanan yang bersisian dengan parit saya melihat bunga-bunga itu bermekaran, dari yang berwarna ungu, putih dan pink. Mereka berpadu, nampak indah sekali. Suamiku berbaik hati mengambilkan 3 buti'....hehehe, senangnya....alhamdulillah^^

_Oleh-oleh jalan minggu pagi_

Juli 06, 2012

Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga

By Ust. Anismatta

Cinta itu bunga; bunga yang tumbuh mekar dalam taman hati kita. Taman itu adalah kebenaran.
Apa yang dengan kuat menumbuhkan, mengembangkan dan memekarkan bunga; Air dan matahari adalah kebaikan. Air memberinya kesejukan dan ketenangan, tapi matahari memberinya gelora kehidupan. Cinta,dengan begitu, merupakan dinamika yang bergulir secara sadar diatas latar wadah perasaan kita.

Maka begitulah seharusnya Umar mencintai; menyejukkan, menenangkan, namun jua menggelorakan. Dan semua makna itu terangkum dalam kata ini; menghidupkan....

Umar mungkin akan dekat dengan peristiwa ini; bagaimana calon istri Umar nanti melahirkan seorang bayi, lalu merawatnya, menumbuhkannya, mengembangkannya, menjaganya. Ia dengan tulus berusaha memberinya kehidupan.

Bila Umar ingin mencintai dengan kuat, maka Umar harus mampu memperhatikan dengan baik, menerima apa adanya dengan tulus, lalu berusaha mengembangkannya semaksimal mungkin, kemudian merawat dan menjaganya dengan sabar. Itulah rangkaian kerja besar para pencinta; pengenalan, penerimaan, pengembangan dan perawatan.

Apakah Umar telah mengenal sang calon istri dengan seksama? Apakah Umar udah mengetahui dengan baik titik kekuatan dan kelemahannya? Apakah kecenderungan-kacenderungannya ? Apakah Umar mengenal pola-pola ungkapannya; melalui pemaknaan khusus dalam penggunaan kata, melalui gerak motorik refleksnya, melalui isyarat rona wajahnya, melalui tatapannya, melalui sudut matanya?

Apakah Umar dapat merasakan getaran jiwanya, saat ia suka dan saat ia benci, saat ia takut dan begitu membutuhkan perlindungan? Apakah Umar dapat melihat gelombang mimpi-mimpinya, harapan-harapannya? Pengenalan yang baik harus disertai dengan penerimaan yang utuh. Umar harus mampu menerimanya apa adanya. Apa yang sering menghambat dalam proses penerimaan total itu adalah pengenalan yang tidak utuh atau obsesi yang berlebihan terhadap fisik.

Umar tidak akan pernah dapat mencintai seseorang secara kuat dan dalam kecuali jika Umar dapat menerimanya apa adanya. Dan ini tidak selalu berarti bahwa Umar menyukai kekurangan dan kelemahannya. Ini lebih berarti bahwa kelemahan dan kekurangan itu bukan kondisi akhir kepribadiannya, dan selalu ada peluang untuk berubah dan berkembang. Dengan perasaan itulah seorang ibu melihat bayinya.

Apakah yang ia harap dari bayi kecil itu? Ketika ia merawatnya, menjaganya dan menumbuhkannya, apakah ia yakin bahwa kelak anak itu membalas kebaikan-kebaikannya? Tidak.

Semua yang ada dalam jiwanya adalah keyakinan bahwa bayi ini punya peluang untuk berubah dan berkembang, dan karenanya ia menyimpan harapan besar dalam hatinya bahwa kelak hari-hari juga lah yang akan menjadikan segalanya lebih baik.

Penerimaan positif itulah yang mengantar kita kepada kerja mencintai selanjutnya; pengembangan. Pada mulanya seorang wanita itu adalah kuncup yang tertutup. Ketika ia memasuki rumah Umar, memasuki wilayah kekuasaan Umar, menjadi istri Umar, menjadi ibu
anak-anak Umar; UMARLAH YANG BERTUGAS MEMBUKA KELOPAK KUNCUP ITU, MENIUPNYA PERLAHAN, AGAR IA MEKAR JADI BUNGA.

Umarlah yang harus menyirami bunga itu dengan air kebapakkan, membuka semua pintu hati anda baginya, gar ia dapat menikmati cahaya matahari yang akan memberinya gelora kehidupan. Hanya dengan kebaikanlah bungu-bunga cinta bersemi, dengan ungkapan AKU CINTA KAMU boleh jadi akan kehilangan makna katika ia dikelilingi perlakuan yang tidak simpatik dan tidak mengembangkan.

Apa yang harus Umar berikan kepada calon istri Umar adalah peluang untuk berkembang.... keberanian menyaksikan perkembangannya tanpa harus merasa bahwa superioritas Umar terganggu. Ini tidak berarti Umar harus memberi semua yang ia senangi, tapi berikanlah apa yang ia butuhkan.

Tetapi setiap perkembangan harus tetap berjalan dalam keseimbangan, dan inilah fungsi perawatan dari rasa cinta. Tidak boleh ada perkembangan yang mengganggu posisi dan komunikasi. Itulah sebabnya terkadang Umar perlu memotong sejumlah ranting yang sudah kepanjangan agar tetap selalu terlihat serasi dan harmoni.

Hidup ini adalah simponi yang kita mainkan dengan indah, maka duduklah sejenak bersama istri Umar nanti, tatap matanya lamat-lamat, dengarkan suara batinnya, getaran nuraninya, dan diam-diam bertanyalah pada diri sendiri APAKAH IA TELAH MENJADI LEBIH BAIK SEJAK HIDUP BERSAMA UMAR ?! mungkinkan suatu saat ia akan mengucapkan puisi Iqbal tentang gurunya :
DAN... NAFAS CINTANYA..... MENIUP KUNCUPKU..... MAKA ... IA MEKAR JADI BUNGA.

Juli 03, 2012

Mawaddah , Sakinah dan Rahmah

Bagi mereka yg mencari Mawaddah (kasih), Sakinah (ketentraman) dan Rahmah (sayang) dalam Keluarga.

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Dengan kerendahan hati mari kita simak pesan-pesan Al-qur'an tentang tujuan hidup yang sebenarnya
Nasehat ini untuk semuanya
Untuk mereka yang sudah memiliki arah
Untuk mereka yang belum memiliki arah
dan untuk mereka yang tidak memiliki arah.
Nasehat ini untuk semuanya
Semua yang menginginkan kebaikan.

Saudaraku
Nikah itu ibadah
Nikah itu suci........... ingat itu!
Memang nikah itu bisa karena harta,
bisa karena kecantikan,
bisa karena keturunan dan bisa karena agama.
Jangan engkau jadikan harta,
keturunan maupun kecantikan sebagai alasan
karena semua itu akan menyebabkan celaka.
Jadikan agama sebagai alasan
Engkau akan mendapatkan kebahagiaan.

Saudaraku
Tidak dipungkiri bahwa keluarga terbentuk karena cinta

Namun...... Jika cinta engkau jadikan sebagai landasan,
maka keluargamu akan rapuh, akan mudah hancur.
Jadikanlah " ALLAH " sebagai landasan
Niscaya engkau akan selamat
Tidak saja dunia, tapi juga akherat
Jadikanlah ridho Allah sebagai tujuan
Niscaya mawaddah, sakinah dan rahmah akan tercapai.

Saudaraku
Jangan engkau menginginkan menjadi raja dalam "istanamu"
disambut istri ketika datang dan dilayani segala kebutuhan
Jika ini kau lakukan " istanamu " tidak akan langgeng
Lihatlah manusia ter-agung Muhammad saw
tidak marah ketika harus tidur di depan pintu beralaskan sorban,
karena sang istri tercinta tidak mendengar kedatangannya.
Tetap tersenyum meski tidak mendapatkan makanan
tersaji dihadapannya ketika lapar
Menjahit bajunya yang robek

Saudaraku
Jangan engkau menginginkan menjadi

ratu dalam "istanamu"
Disayang, dimanja dan dilayani suami
Terpenuhi apa yang menjadi keinginanmu
Jika itu engkau lakukan
"istanamu" akan menjadi neraka bagimu

Saudaraku
Jangan engkau terlalu cinta kepada istrimu
Jangan engkau terlalu menuruti istrimu
Jika itu engkau lakukan akan celaka
Engkau tidak akan dapat melihat yang hitam dan yang putih,
tidak akan dapat melihat yang benar dan yang salah
Lihatlah bagaimana Allah menegur " Nabi "-mu
tat kala mengharamkan apa yang Allah halalkan
hanya karena menuruti kemauan sang istri.

Tegaslah terhadap istrimu
Dengan cintamu, ajaklah dia taat kepada Allah
Jangan biarkan dia dengan kehendaknya
Lihatlah bagaimana istri Nuh dan Luth
Di bawah bimbingan manusia pilihan,
justru mereka menjadi penentang
Istrimu bisa menjadi musuhmu

Didiklah istrimu
Jadikanlah dia sebagai Hajar,
wanita utama yang loyal terhadap tugas suami, Ibrahim.
Jadikan dia sebagai Maryam,
wanita utama yang bisa menjaga kehormatannya
Jadikan dia sebagai Khadijah,
wanita utama yang bisa mendampingi sang suami Muhammad saw menerima tugas risalah

Istrimu adalah tanggung jawabmu
Jangan kau larang mereka taat kepada Allah
Biarkan mereka menjadi wanita shalilah
Biarkan mereka menjadi Hajar atau Maryam
Jangan kau belenggu mereka dengan egomu

Saudaraku
Jika engkau menjadi istri
Jangan engkau paksa suamimu menurutimu
Jangan engkau paksa suamimu melanggar Allah
siapkan dirimu untuk menjadi Hajar, yang setiaterhadap tugas suami
Siapkan dirimu untuk menjadi Maryam, yang bisa menjaga kehormatannya
Siapkan dirimu untuk menjadi Khadijah, yang bisa mendampingi suami menjalankan misi.

Jangan kau usik suamimu dengan rengekanmu
Jangan kau usik suamimu dengan tangismu
Jika itu kau lakukan
Kecintaannya terhadapmu akan memaksanya menjadi pendurhaka
jangan!

Saudaraku
Jika engaku menjadi Bapak
Jadilah bapak yang bijak seperti Lukmanul Hakim
Jadilah bapak yang tegas seperti Ibrahim
Jadilah bapak yang kasih seperti Muhammad saw
Ajaklah anak-anakmu mengenal Allah
Ajaklah mereka taat kepada Allah
Jadikan dia sebagai Yusuf yang berbakti
Jadikan dia sebagai Ismail yang taat
Jangan engkau jadikan mereka sebagai Kan'an yang durhaka.

Mohonlah kepada Allah
Mintalah kepada Allah,
agar mereka menjadi anak yang shalih
Anak yang bisa membawa kebahagiaan.

Saudaraku
Jika engkau menjadi ibu
Jadilah engkau ibu yang bijak, ibu yang teduh
Bimbinglah anak-anakmu dengan air susumu
Jadikanlah mereka mujahid
Jadikanlah mereka tentara-tentara Allah
Jangan biarkan mereka bermanja-manja
Jangan biarkan mereka bermalas-malas
Siapkan mereka untuk menjadi hamba yang shalih
Hamba yang siap menegakkan Risalah Islam.

Belajar mencintai dan dicintai

Oleh ust. Cahyadi

Seorang suami bercerita kepada saya, bahwa dalam usia pernikahannya yang memasuki tahun ketiga, ia tak juga merasa semakin mengenal istrinya. Masih sekian banyak hal2 asing dan bahkan aneh yang ia temukan pada diri seorang makhluk "halus" bernama istrinya itu. Siapakah dirimu wahai istriku? Demikian ia sering bertanya dalam hati.

Seorang perempuan yang tiba2 menangis tanpa sebab2 yang bisa diterima akal laki2. Seorang perempuan yang tiba2 ngambek hanya karena urusan kecil menurut ukuran laki2. Sesekali sedemikian manja dan amat ceria, pada kesempatan lain tampak begitu keras. Sesekali tampak cerdas dan pintar dalam berargumentasi, sesekali tampak sedemikian emosional dan logikanya tidak jalan.

Dunia laki2 sering mengajarkan pola hidup rasional, argumentative, cenderung mengeliminir unsur perasaan dan dalam banyak hal : kaku. Ia lebih bisa memahami mengapa seseorang berkelahi, daripada mengapa ada orang yang menangis dalam menyelesaikan masalah. Ia lebih bisa menerima seseorang yang berdebat dalam mempertahankan keinginannya daripada seseorang yang diam membisu dalam mengekspresikan keinginannya. Ia lebih mudah mengerti jawaban "iya" dan "tidak" daripada bahasa perasaan yang mengalir tanpa kejelasan.
Tapi sedemikian pulalah yang dihadapi oleh sang istri. Seorang akhwat muslimah, yang belum pernah bersentuhan kulit dengan laki2 di masa lajangnya. Tiba2 ia merasa ada " raksasa yang memperkosa" banyak rahasia dirinya. Sehelai rambut yang sempat menyembul keluar dari balik kerudung rapinya saja sudah cukup membuat ia malu dan merah padam wajahnya di depan laki2. Kini semua rambutnya berjurai lepas di dalam rumah, di hadapan seorang ikhwan. Ia mencoba menyesuaikan irama kehidupan dirinya dengan suami. Ia mulai mengenal dunia laki2 secara sangat dekat tanpa jarak. Ia mulai berinteraksi dengan benda2 perlengkapan laki2 yang dulu tak pernah terjamah olehnya. Bahasa2 dakwah yang kental dan bahkan amat pekat selama ini, telah mencetak sebuah kepribadian aktivis yang berbahasa lugas dan tak pandai juga tak terbiasa "berbunga-bunga" dalam berbahasa. Kini harus ada evolusi kultural, sejak dari penampilan, berparhum didepan suami, bersolek wajah, merajuk, merayu, bersikap manja dan
membahasakan cinta secara berbunga2. Kesemuanya itu tidak pernah ada pelajarannya. Tidak pernah ada materi pembinaannya. Tiba2 harus bisa, dalam waktu sekejap saja.

Kita dibuat tidak secara pandai dan argumentatif memahami dunia pasangan kita, kecuali melalui pembelajaran dan saling membantu untuk terbuka kepada pasangannya tentang apa yang dirasakan. Saling membantu mengajarkan tentang diri sendiri, bahwa "aku adalah makhluk Allah yang punya keinginan" dan mestinya "engkau mengerti keinginanku". Tetapi proses pembahasaan verbal tak senantiasa berhasil mengungkap hakekat perasaan, sebab diksi tak selalu mampu menuturkan kata hati secra jeli dan teliti.

Cinta bisa saja menimbulkan prasangka, justru karena ingin mengekalkan kecintaan itu. Sebagaimana saling percaya harus tumbuh diatas benih2 kesuburan cinta dan kasih saying suami istri secara timbal balik. Tak pelak keikhlasan harus memancar serta secara tulus menerima apa adanya pasangan hidup masing2.

Untuk bisa mencintai dan merasakan dicintai, diperlukan pengenalan, sebagaimana kata orang bijak tak kenal maka tak sayang. Maka belajarlah untuk mengenali pasangan hidup masing2.

Di Jalan Mana Anda Menikah

Kupeluk ia dengan sepenuh-penuh rindu
Namun terobatikah rindu setelah itu?
Kukecup bibirnya demi melepaskan tuntutan gejolak hati
Namun ia semakin menjadi-jadi
Sepertinya kegelisahan jiwa tak bisa terobati
Kecuali jika kedua nyawa ini bertemu (dalam ikatan suci)


"Ibnu Ar Rumi"
Yang terpenting dari setiap perbuatan ialah niatnya, "Bahwasanya semua amal itu tergantung niatnya, dan bahwasanya apa yang diperoleh oleh seseorang adalah sesuai dengan apa yang diniatkannya..." (HR. Bukhari dan Muslim). Kalau niat anda bukan untuk beribadah kepada Allah dan untuk menegakkan syari'at Islam berdasarkan Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah, berhentilah membaca dan temukan dahulu niat yang tulus ikhlas tersebut !!!

"Tidaklah Rasulullah saw dihadapkan pada pilihan antara dua hal, kecuali beliau mengambil yang lebih mudah, asalkan bukan dosa" (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah saw bersabda kepada 'Ukaf bin Wada'ah Al Hilali, " Apakah engkau telah beristri wahai 'Ukaf ?" Ia menjawab, "belum", Rasul saw bersabda , " tidakkah engkau mempunyai budak perempuan ?" Jawabnya "Tidak". Sabda beliau, "bukankah engkau sehat lagi berkemampuan?" Jawab 'Ukaf, " Ya, Alhamdulillah ". Maka beliau bersabda: " Kalau begitu engkau termasuk teman setan. Karena engkau mungkin termasuk pendeta Nasrani, lantaran itu berarti engkau termasuk dalam golongan mereka . Atau mungkin engkau termasuk golongan kami, lantaran itu hendaknya engkau berbuat seperti yang menjadi kebiasaan kami, karena kebiasaan kami adalah beristri. Orang yang paling durhaka di antara kalian ialah yang membujang, dan orang mati yang paling hina diantara kamu ialah kematian bujangan . Sungguh celaka kamu wahai 'Ukaf. Oleh karena itu menikahlah !"...(HR. Ibnu Atsir dan Ibnu Hajar)

" Barang siapa telah mempunyai kemampuan untuk menikah kemudian ia tidak menikah maka dia bukan termasuk umatku"(HR. Thabrani dan Baihaqi)

Al Hafizh Ibnu Hajar berkata" Para ulama membagi orang dalam perkawinan menjadi beberapa macam. Pertama orang yang sudah berkeinginan untuk menikah dan mampu membiayai kehidupan serta merasa khawatir terhadap dirinya (akan terjerumus ke dalam perbuatan tercela jika tidak menikah), maka orang ini dianjurkan (disunnahkan) untuk menikah menurut semua ulama, dan dari madzhab Hambali dalam salah satu riwayat menambahkan bahwa dia wajib menikah".

"Dan nikahkanlah orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak nikah di antara hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya, dan Allah Maha Luas pemberianNya lagi Maha Mengetahui" (An Nur: 32)

"Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa" (Al An'am: 153)

Jika ingin mendapat pasangan yang baik, jadikan diri baik terlebih dahulu. Jika ingin mendapatkan istri yang salehah, jadikan diri anda saleh terlebih dahulu, dan sebaliknya. Bagaimana anda menuntut istri anda sekualitas Fatimah, sedangkan anda sendiri tidak sekapasitas Ali ? Bagaimana mungkin anda berharap istri anda setabah Sarah dan Hajar, sedangkan anda tidak sekokoh Ibrahim as ?

"Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita yang kaji (pula). Dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)" (An Nur: 26)

Persiapan-persiapanya :

Jika anda laki-laki, ada kesiapan dalam diri anda untuk bertindak sebagai qawam dalam RT, berfungsi sebagai bapak bagi anak-anak yang akan lahir nantinya, bisa menanggung segala beban-beban yang disebabkan oleh karena posisi anda sebagai suami dan bapak, mampu memberikan kepuasan optimal kepada istrinya dalam hak istimta' ."Dan kalian wajib memberikan nafkah kepada mereka (istri-istri) dan memberi pakaian secara ma'ruf" (HR Muslim), mampu menyandang status sosial yang tadinya lajang dia masih menjadi bagian dari keluarga orang tuanya, setelah menikah mereka mulai dihitung sebagai keluarga tersendiri, dan masih banyak yang lainnya.

Jika anda perempuan, ada kesiapan untuk membuka ruang baru bagi intervensi seorang mitra bernama suami, kesiapan untuk mengurangi sebagian otoritas atas dirinya sendiri lantaran tunduk pada prinsip syura dan ketaatan pada suami, kesiapan untuk hamil, melahirkan dan menyusui. Siap menanggung beban-beban baru yang muncul akibat hadirnya anak, dan masih banyak yang lainnya.

"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan sesuatu. Dan berbuat baiklah terhadap orang tua, kerabat-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan dirinya (An Nisa: 36)

Yaa Allah, sesungguhnya hambaMu ini memohon kepadaMu dengan IlmuMu pilihan yang paling tepat, hambamu ini memohon kekuatan kepadaMu dengan ke Maha KekuasaanMu, hambaMu memohon KaruniaMu yang besar. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa, sedangkan hambaMu ini tidak kuasa, Engkau Maha Mengetahui sedangkan hambaMu ini tidak mengetahui, dan Engkau yang mengetahui perkara yang Ghaib Yaa Allah, apabila Engkau mengetahui apabila perkara ini baik bagi agama hamba-hambaMu, dan baik akibatnya bagi diri hamba-hambaMu ini di dunia maupun di akhirat, maka tetapkanlah dan mudahkanlah. Sesungguhnya apabila Engkau mengetahui bahwa perkara ini buruk bagi agama hamba-hambaMu, dan buruk akibatnya bagi hamba-hambaMu ini di dunia maupun di akhirat, maka jauhkanlah perkara ini dari hamba-hambaMu dan jauhkanlah diri hamba-hambaMu ini darinya. Tetapkanlah kebaikan untuk hamba-hambaMu dimanapun hamba-hambaMu ini berada, dan jadikanlah hamba-hambaMu ini ridha menerimanya... (HR. Bukhari).