Qais sebenarnya tidak harus bunuh diri. Hidup tetap bisa dilanjutkan tanpa Layla. Tapi itulah masalahnya. Ia tidak sanggup. Ia menyerah. Hidup tidak lagi berarti baginya tanpa layla. Ia memang tidak minum racun. Atau gantung diri. Atau memutus urat nadinya. Tapi ia membiarkan dirinya tenggelam dalam duka sampai napas berakhir. Tidak bunuh diri. Tapi jalannya seperti itu.
Orang-orang romantis selalu begitu : rapuh. Bukan karena romantisme mengharuskan mereka rapuh. Tapi di dalam jiwa mereka ada bias besar. Mereka punya jiwa yang halus. Tapi kehalusan itu berbaur dengan kelemahan. Dan itu bukan kombinasi yang bagus. Sebab batasnya jadi kabur. Kehalusan dan kelemahan jadi tampak sama. Qais lelaki yang halus. Sekaligus lemah.
Kombinasi begini banyak membuat orang-orang romantis jadi sangat rapuh. Apalagi saat-saat menghadapi badai kehidupan. Misalnya ketika mereka harus berpisah untuk sebuah pertempuran. Maka cinta dan perang selalu hadir sebagai momen paling melankolik bagi orang-orang romantis. Mengerikan. Tapi tak terhindarkan. Berdarah-darah. Tapi tak terelakkan. Itu dunia orang-orang jahat. Dan orang-orang romantis datang kesana sebagai korban.
Begitu ruang kehidupan direduksi hanya ke dalam kehidupan mereka berdua dunia tampak sangat buruk dengan perang. Tapi kehidupan punya jalannya sendiri. Ada kaidah yang mengaturnya. Dan perang adalah niscaya dalam aturan itu. Maka terbentanglah medan konflik yang rumit dalam batin mereka. Dan orang-orang romantis yang rapuh itu selalu kalah. Itu sebabnya Allah mengancam orang-orang beriman : kalau mereka mencintai istri-istri mereka lebih dari cinta mereka pada jihad, maka Allah pasti punya urusan dengan mereka.
Tapi itulah persoalan inti dalam ruang cinta jiwa. Jika cinta jiwa ini berdiri sendiri, dilepas sama sekali dari misi yang lebih besar, maka jalannya memang biasanya kesana : romantisme biasanya mengharuskan mereka mereduksi kehidupan hanya ke dalam ruang kehidupan mereka berdua saja. Karena di sana dunia seluruhnya hanya damai. Di sana mereka bisa menyambunyikan kerapuhan atas nama kehalusan dan kelembitan jiwa. Itu sebabnya cinta jiwa selalu membutuhkan pelurusan dan pemaknaan dengan menyatukannya dengan cinta misi. Dari situ cinta jiwa menemukan keterahan dan juga sumber energi. Dan hanya itu yang memungkinkan romantisme dikombinasi dengan kekuatan jiwa.
Maka orang-orang romantis itu tetap dalam kehalusan jiwanya sebagai pecinta, tapi dengan kekuatan jiwa yang tidak memungkinkan mereka jadi korban karena rapuh.
Ketika kabar syahidnya syekh Abdullah Azzam disampaikan kepada istri beliau, janda itu hanya menjawab enteng, Alhamdulillah, sekarang dia mungkin sudah bersenang-senang dengan para bidadari…
By Ust Anismatta
Maret 14, 2009
seperti Tarian Burung camar
Tulisan yang hidup adalah senjata penting untuk menaklukkan minat pembaca di tengah persaingan antar media komunikasi yang kian ketat. Mereka dikangeni karena berjiwa — personal, memiliki sudut pandang yang unik dan cerdas, serta penuh vitalitas. Tulisan yang baik tak ubahnya seperti tarian burung camar di sebuah teluk: ekonomis dalam gerak, tangkas dengan kejutan, simple dan elok.Tulisan yang baik adalah hasil ramuan ketrampilan (reporter) menggali bahan penting di lapangan dan kemampuan (redaktur) menuliskannya secara hidup.
TUJUH ELEMEN
Apapun subyeknya, setiap karya jurnalistik yang bagus memiliki setidaknya tujuh unsur.
1.InformasiAdalah informasi, bukan bahasa, yang merupakan batu bata penyusun sebuah tulisan yang efektif. ”Prosa adalah arsitektur, bukan dekorasi interior,” kata Ernest Hemingway. Untuk bisa menulis prosa yang efektif, penulis pertama-tama harus mengumpulkan kepingan informasi serta detil konkret yang spesifik dan akurat — bukan kecanggihan retorika atau pernik-pernik bahasa.
2.Signifikansi
Tulisan yang baik memiliki dampak pada pembaca. Dia mengingatkan pembaca pada sesuatu yang mengancam kehidupan mereka, kesehatan, kemakmuran maupun kesadaran mereka akan nilai-nilai. Dia memberikan informasi yang ingin dan penting diketahui pembaca. Serta meletakkan informasi itu dalam sebuah perspektif yang berdimensi: mengisahkan apa yang telah, sedang dan akan terjadi.
3.FokusTulisan yang sukses biasanya justru pendek, terbatasi secara tegas dan sangat fokus. ”Less is more,” lagi-lagi kata Hemingway. Umumnya tulisan yang baik hanya mengatakan satu hal. Mereka mengisahkan seorang serdadu atau seorang korban, bukan pertempuran. Memperbincangkan sebuah person, sebuah kehidupan, bukan sebuah kelompok sosio-ekonomi.”Don’t write about Man, write about a man,” kata Elwyn Brooks White, seorang humoris Amerika.
4.KonteksTulisan yang efektif mampu meletakkan informasi pada perspektif yang tepat sehingga pembaca tahu dari mana kisah berawal dan kemana mengalir, seberapa jauh dampaknya dan seberapa tipikal. Penulis yang tak terlalu piawai akan menyajikan konteks dalam sebuah kapsul besar secara sekaligus, sehingga sulit dicerna. Penulis yang lebih lihai menggelombangkan konteks ke seluruh cerita.
5.WajahManusia suka membaca tulisan tentang manusia lainnya. Jurnalisme menyajikan gagasan dan peristiwa — trend sosial, penemuan ilmiah, opini hukum, perkembangan ekonomi, krisis internasional, tragedi kemanusiaan — dengan memperkenalkan pembaca kepada orang-orang yang menciptakan gagasan dan menggerakkan peristiwa. Atau dengan menghadirkan orang-orang yang terpengaruh oleh gagasan dan peristiwa itu.
Tulisan akan efektif jika penulisnya mampu mengambil jarak dan membiarkan pembacanya bertemu, berkenalan serta mendengar sendiri gagasan/informasi/perasaan dari manusia-manusia di dalamnya.”Don’t say the old lady screamed — bring her on and let her scream,” kata Mark Twain, jurnalis dan novelis pengarang The Adventure of Tom Sawyer.
6.BentukTulisan yang efektif memiliki sebuah bentuk yang mengandung dan –sekaligus — mengungkapkan cerita. Umumnya berbentuk narasi. Dan sebuah narasi bakal sukses jika memiliki semua informasi yang dibutuhkan pembacanya dan jika ceritanya bisa diungkapkan dalam pola kronologis aksi-reaksi. Penulis harus kreatif untuk menyusun sebuah bentuk yang memungkinkan pembacanya memiliki kesan komplet yang memuaskan, perasaan bahwa segala yang ada dalam tulisan mengalir ke arah konklusi yang tak terhindarkan.
7.SuaraKita tak boleh lupa, bahkan dalam abad komunikasi massa seperti sekarang kegiatan membaca tetap saja bersifat pribadi: seorang penulis bertutur kepada seorang pembaca. Tulisan akan mudah diingat jika mampu menciptakan ilusi bahwa seorang penulis tengah bertutur kepada pembacanya. Majalah/koran yang baik tak ubahnya seperti pendongeng yang memukau. Dan penulis yang baik mampu menghadirkan warna suara yang konsisten ke seluruh cerita, tapi menganekaragamkan volume dan ritme untuk memberi tekanan pada makna.Secara ringkas, tulisan yang baik mengandung informasi menarik dan berjiwa. Menarik karena penting, terfokus dan berdimensi. Serta berjiwa, karena berwajah, berbentuk dan bersuara.
TULISAN YANG BURUK: TUJUH KEGAGALAN
Gagal menekankan segala yang penting — seringkali karena gagal meyakinkan bahwa kita memahami informasi yang kita tulis.
Gagal menghadirkan fakta-fakta yang mendukung.
Gagal memerangi kejemuan pembaca. Terlalu banyak klise, hal-hal yang umum. Tak ada informasi spesifik yang dibutuhkan pembaca.
Gagal mengorganisasikan tulisan secara baik — organisasi kalimat maupun keseluruhan cerita.
Gagal mempraktekkan tata bahasa secara baik; salah membubuhkan tanda baca dan salah menuliskan ejaan.
Gagal menulis secara balans, sebuah dosa yang biasanya merupakan akibat ketidakpercayaan kepada pembaca, atau keengganan untuk membiarkan fakta-fakta yang ada mengalirkan cerita sendiri tanpa restu dari persepsi penulis tentang arah cerita yang benar. Dengan kata lain: menggurui pembaca, elitis.
Semua kegagalan itu bermuara pada kegagalan untuk mengkaitkan diri dengan pembaca. Banyak tulisan akan lebih baik — dan banyak tulisan yang dianggap sulit akan menjadi lebih mudah — jika kita ingat bahwa kita tidak sedang menulis sebuah novel besar. Kita hanya mencoba menyalurkan sesuatu kepada mereka yang telah membeli koran kita.
Menulis untuk Pembaca
1.Datanglah dengan “sesuatu” sebelum menulis sebuah berita. Jika Anda tak bisa menuliskan“sesuatu” itu, Anda tidak punya gagasan, apalagi berita.
2.Tulislah sedemikian sehingga mudah dimengerti, dengan Bahasa Indonesia yang sederhana. Kata-kata sederhana lebih digdaya. Hindari kata-kata asing, ilmiah, atau jargon.Jangan katakan: “Prosedur alternatif untuk merealisasikan objektif ini harus dipetakan”.Tulislah: “Kita memerlukan cara baru untuk melakukannya.”
3. Tulisan yang mudah dibaca lebih sulit membuatnya. Jika bisa, buatlah kata-kata Anda bernyanyi dan menari. Jika tidak bisa, cukup membuatnya jadi jelas. Katakan pada diri-sendiri setiap hari: Anda tak perlu memberi kesan menguasai bahasa yang indah serta mendayu-dayu.
4. Gambarkan, bukan katakan. Tulislah sehingga pembaca akan mengatakan: “Saya merasa seperti benar-benar melihat apa yang Anda tulis”. Visualisasikan setiap adegan, tunjukkan pada mereka apa saja yang nampak dalam mata pikiran Anda. Penuhi kalimat dengan orang, tempat dan benda-benda, serta dengan detil yang cukup, tapi tidak terlampau banyak. (Jika perlu: tampilkan dalam bentuk foto).
5. Hindari memakai eufemisme dan kata-kata yang dipromosikan oleh kelompok kepentingan tertentu, termasuk pemerintah dan kalangan militer. “Diamankan” dalam banyak hal adalah “ditahan”; “harga yang disesuaikan” hampir selalu adalah “harga naik”; dan “Gerakan Pengacau Keamanan” adalah besar kemungkinan “pejuang hak-hak sipil”). Juga hindari kata seperti ini: kata “insan” dalam “insan pers” dan “insan film” (cukup: “wartawan” atau “artis”).
6. Jika Anda tak mampu menemukan cacat pada tulisan Anda sendiri, Anda bukan penulis. Sediakan waktu untuk menyunting sendiri apa yang telah ditulis. Sisi mudah dalam menulis adalah bahwa Anda tak perlu sempurna sejak awal — tidak seperti misalnya jika Anda dokter yang sedang melakukan bedah otak. Bahkan penulis kondang percaya bahwa tulisan yang baik adalah hasil penulisan ulang (re-writing).
7. Berita yang baik tidak memerlukan dekorasi. Hapus kata “amat” atau “sekali” setiap menemuinya. Hapus sebanyak mungkin kata sifat seperti “cantik” atau “hebat” atau “piawai” ketika melaporkan sebuah peristiwa. Anda bisa menulis tanpa mereka jika Anda punya kata kerja yang kuat.
8. “Less is more,” kata Ernest Hemingway. Jangan menulis dengan kata-kata panjang jika dengan yang pendek sudah cukup. Gunakan kata kerja aktif. Jangan ubah kata kerja menjadi kata benda yang buruk.
9. Tergila-gilalah pada akurasi. Jangan buat ketololan seperti salah menuliskan nama seseorang. Pembaca akan mengatakan: “Jika Anda ceroboh dengan hal-hal kecil, bagaimana kami bisa percaya Anda dengan hal-hal yang penting?” Maka teliti dan teliti ulang fakta Anda. Jika ragu, tinggalkan mereka.
10. Jika Anda tidak bisa memperlakukan fakta sebagai sesuatu yang sakral, jadilah penulis fiksi — bukan wartawan. Jangan pernah melaporkan gosip. Jangan merekayasa peristiwa. Dan jangan membedaki kutipan orang agar nampak lebih seksi. Keuntungannya sangat sedikit, harga yang harus dibayar sangat mahal.
Oleh: Farid Gaban
TUJUH ELEMEN
Apapun subyeknya, setiap karya jurnalistik yang bagus memiliki setidaknya tujuh unsur.
1.InformasiAdalah informasi, bukan bahasa, yang merupakan batu bata penyusun sebuah tulisan yang efektif. ”Prosa adalah arsitektur, bukan dekorasi interior,” kata Ernest Hemingway. Untuk bisa menulis prosa yang efektif, penulis pertama-tama harus mengumpulkan kepingan informasi serta detil konkret yang spesifik dan akurat — bukan kecanggihan retorika atau pernik-pernik bahasa.
2.Signifikansi
Tulisan yang baik memiliki dampak pada pembaca. Dia mengingatkan pembaca pada sesuatu yang mengancam kehidupan mereka, kesehatan, kemakmuran maupun kesadaran mereka akan nilai-nilai. Dia memberikan informasi yang ingin dan penting diketahui pembaca. Serta meletakkan informasi itu dalam sebuah perspektif yang berdimensi: mengisahkan apa yang telah, sedang dan akan terjadi.
3.FokusTulisan yang sukses biasanya justru pendek, terbatasi secara tegas dan sangat fokus. ”Less is more,” lagi-lagi kata Hemingway. Umumnya tulisan yang baik hanya mengatakan satu hal. Mereka mengisahkan seorang serdadu atau seorang korban, bukan pertempuran. Memperbincangkan sebuah person, sebuah kehidupan, bukan sebuah kelompok sosio-ekonomi.”Don’t write about Man, write about a man,” kata Elwyn Brooks White, seorang humoris Amerika.
4.KonteksTulisan yang efektif mampu meletakkan informasi pada perspektif yang tepat sehingga pembaca tahu dari mana kisah berawal dan kemana mengalir, seberapa jauh dampaknya dan seberapa tipikal. Penulis yang tak terlalu piawai akan menyajikan konteks dalam sebuah kapsul besar secara sekaligus, sehingga sulit dicerna. Penulis yang lebih lihai menggelombangkan konteks ke seluruh cerita.
5.WajahManusia suka membaca tulisan tentang manusia lainnya. Jurnalisme menyajikan gagasan dan peristiwa — trend sosial, penemuan ilmiah, opini hukum, perkembangan ekonomi, krisis internasional, tragedi kemanusiaan — dengan memperkenalkan pembaca kepada orang-orang yang menciptakan gagasan dan menggerakkan peristiwa. Atau dengan menghadirkan orang-orang yang terpengaruh oleh gagasan dan peristiwa itu.
Tulisan akan efektif jika penulisnya mampu mengambil jarak dan membiarkan pembacanya bertemu, berkenalan serta mendengar sendiri gagasan/informasi/perasaan dari manusia-manusia di dalamnya.”Don’t say the old lady screamed — bring her on and let her scream,” kata Mark Twain, jurnalis dan novelis pengarang The Adventure of Tom Sawyer.
6.BentukTulisan yang efektif memiliki sebuah bentuk yang mengandung dan –sekaligus — mengungkapkan cerita. Umumnya berbentuk narasi. Dan sebuah narasi bakal sukses jika memiliki semua informasi yang dibutuhkan pembacanya dan jika ceritanya bisa diungkapkan dalam pola kronologis aksi-reaksi. Penulis harus kreatif untuk menyusun sebuah bentuk yang memungkinkan pembacanya memiliki kesan komplet yang memuaskan, perasaan bahwa segala yang ada dalam tulisan mengalir ke arah konklusi yang tak terhindarkan.
7.SuaraKita tak boleh lupa, bahkan dalam abad komunikasi massa seperti sekarang kegiatan membaca tetap saja bersifat pribadi: seorang penulis bertutur kepada seorang pembaca. Tulisan akan mudah diingat jika mampu menciptakan ilusi bahwa seorang penulis tengah bertutur kepada pembacanya. Majalah/koran yang baik tak ubahnya seperti pendongeng yang memukau. Dan penulis yang baik mampu menghadirkan warna suara yang konsisten ke seluruh cerita, tapi menganekaragamkan volume dan ritme untuk memberi tekanan pada makna.Secara ringkas, tulisan yang baik mengandung informasi menarik dan berjiwa. Menarik karena penting, terfokus dan berdimensi. Serta berjiwa, karena berwajah, berbentuk dan bersuara.
TULISAN YANG BURUK: TUJUH KEGAGALAN
Gagal menekankan segala yang penting — seringkali karena gagal meyakinkan bahwa kita memahami informasi yang kita tulis.
Gagal menghadirkan fakta-fakta yang mendukung.
Gagal memerangi kejemuan pembaca. Terlalu banyak klise, hal-hal yang umum. Tak ada informasi spesifik yang dibutuhkan pembaca.
Gagal mengorganisasikan tulisan secara baik — organisasi kalimat maupun keseluruhan cerita.
Gagal mempraktekkan tata bahasa secara baik; salah membubuhkan tanda baca dan salah menuliskan ejaan.
Gagal menulis secara balans, sebuah dosa yang biasanya merupakan akibat ketidakpercayaan kepada pembaca, atau keengganan untuk membiarkan fakta-fakta yang ada mengalirkan cerita sendiri tanpa restu dari persepsi penulis tentang arah cerita yang benar. Dengan kata lain: menggurui pembaca, elitis.
Semua kegagalan itu bermuara pada kegagalan untuk mengkaitkan diri dengan pembaca. Banyak tulisan akan lebih baik — dan banyak tulisan yang dianggap sulit akan menjadi lebih mudah — jika kita ingat bahwa kita tidak sedang menulis sebuah novel besar. Kita hanya mencoba menyalurkan sesuatu kepada mereka yang telah membeli koran kita.
Menulis untuk Pembaca
1.Datanglah dengan “sesuatu” sebelum menulis sebuah berita. Jika Anda tak bisa menuliskan“sesuatu” itu, Anda tidak punya gagasan, apalagi berita.
2.Tulislah sedemikian sehingga mudah dimengerti, dengan Bahasa Indonesia yang sederhana. Kata-kata sederhana lebih digdaya. Hindari kata-kata asing, ilmiah, atau jargon.Jangan katakan: “Prosedur alternatif untuk merealisasikan objektif ini harus dipetakan”.Tulislah: “Kita memerlukan cara baru untuk melakukannya.”
3. Tulisan yang mudah dibaca lebih sulit membuatnya. Jika bisa, buatlah kata-kata Anda bernyanyi dan menari. Jika tidak bisa, cukup membuatnya jadi jelas. Katakan pada diri-sendiri setiap hari: Anda tak perlu memberi kesan menguasai bahasa yang indah serta mendayu-dayu.
4. Gambarkan, bukan katakan. Tulislah sehingga pembaca akan mengatakan: “Saya merasa seperti benar-benar melihat apa yang Anda tulis”. Visualisasikan setiap adegan, tunjukkan pada mereka apa saja yang nampak dalam mata pikiran Anda. Penuhi kalimat dengan orang, tempat dan benda-benda, serta dengan detil yang cukup, tapi tidak terlampau banyak. (Jika perlu: tampilkan dalam bentuk foto).
5. Hindari memakai eufemisme dan kata-kata yang dipromosikan oleh kelompok kepentingan tertentu, termasuk pemerintah dan kalangan militer. “Diamankan” dalam banyak hal adalah “ditahan”; “harga yang disesuaikan” hampir selalu adalah “harga naik”; dan “Gerakan Pengacau Keamanan” adalah besar kemungkinan “pejuang hak-hak sipil”). Juga hindari kata seperti ini: kata “insan” dalam “insan pers” dan “insan film” (cukup: “wartawan” atau “artis”).
6. Jika Anda tak mampu menemukan cacat pada tulisan Anda sendiri, Anda bukan penulis. Sediakan waktu untuk menyunting sendiri apa yang telah ditulis. Sisi mudah dalam menulis adalah bahwa Anda tak perlu sempurna sejak awal — tidak seperti misalnya jika Anda dokter yang sedang melakukan bedah otak. Bahkan penulis kondang percaya bahwa tulisan yang baik adalah hasil penulisan ulang (re-writing).
7. Berita yang baik tidak memerlukan dekorasi. Hapus kata “amat” atau “sekali” setiap menemuinya. Hapus sebanyak mungkin kata sifat seperti “cantik” atau “hebat” atau “piawai” ketika melaporkan sebuah peristiwa. Anda bisa menulis tanpa mereka jika Anda punya kata kerja yang kuat.
8. “Less is more,” kata Ernest Hemingway. Jangan menulis dengan kata-kata panjang jika dengan yang pendek sudah cukup. Gunakan kata kerja aktif. Jangan ubah kata kerja menjadi kata benda yang buruk.
9. Tergila-gilalah pada akurasi. Jangan buat ketololan seperti salah menuliskan nama seseorang. Pembaca akan mengatakan: “Jika Anda ceroboh dengan hal-hal kecil, bagaimana kami bisa percaya Anda dengan hal-hal yang penting?” Maka teliti dan teliti ulang fakta Anda. Jika ragu, tinggalkan mereka.
10. Jika Anda tidak bisa memperlakukan fakta sebagai sesuatu yang sakral, jadilah penulis fiksi — bukan wartawan. Jangan pernah melaporkan gosip. Jangan merekayasa peristiwa. Dan jangan membedaki kutipan orang agar nampak lebih seksi. Keuntungannya sangat sedikit, harga yang harus dibayar sangat mahal.
Oleh: Farid Gaban
Succses With Shalat

“Dengan menggali dan merenungkan perintah shalat, kita akan menemukan banyak hikmah. Dalam buku ini penulis berusaha mengungkapkan hikmah shalat dari sudut pandang pencapaian kesuksesan. Buku ini sangat menarik untuk dibaca bagi siapa saja yang ingin mencapai kesuksesan” (Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc. M.Ag. – Anggota Komisi Fatwa MUI).
“Ingin hidup sukses, tenang, stabil, tahan banting, dan bahagia lahir-batin? Saya yakin, shalatlah kuncinya! Buku ini mengupas shalat sebagai ‘Sekolah Kesuksesan’ terhebat. Kita semua, insya Allah, mendapat manfaat setelah membaca buku karya Saudara Salman ar-Raisy ini” (Prof. Dr. H.M. Amien Rais, MA – Ketua MPR periode 1999-2004).
“Subhanallah, buku yang luar biasa. Menyadarkan kita bahwa mestinya dengan shalat kita menjadi hebat. Ternyata shalat bisa menjadi satu perguruan tinggi, di mana bagian-bagian gerakan dan bacaannya menjadi fakultas tersendiri. Jangan lewatkan buku ini untuk Anda miliki dan Anda nikmati” (Cahyadi Takariawan; penulis buku Yang Tegar Di Jalan Dakwah dan Di Jalan Dakwah Aku Menikah).
“Ringan, tetapi inspiratif, mampu ‘mengurai’ kejumudan kita dalam berislam” (Drs. H. Hasyim Abdullah, MM – Ketua Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia).
“Subhanallah, inilah buku dari sedikit buku yang mengurai berjuta hikmah yang terkandung dalam shalat! Diracik dengan gaya bertutur yang khas, dibumbui banyak contoh inspiratif dan aplikatif yang distandardisasi akidah Islam” (Ir. M. Karebet Widjajakusuma – Direktur SEM Institute; trainer dan konsultan Metanoiac; penulis buku motivasi dan bisnis islami).
“Shalat adalah tiang agama, cahaya keimanan, dan obat penawar hati serta solusi persoalan. Tulisan Saudara Salman ar-Raisy patut dibaca agar dapat membawa kita mencapai kesuksesan dunia dan akhirat” (M. Suyanto, M.M., Ph.D. – kolomnis Republika; Direktur Primagama Group).
“Buku yang rinci mengupas makna wudhu, azan, serta gerakan dan bacaan shalat. Saran saya, baca buku ini! Insya Allah kita bisa mengambil pelajaran untuk dipraktikkan dalam rangka mendapat kesuksesan dunia dan akhirat” (Hj. Noor Liesnani Pamella – Owner dan General Manager Pamella Group).“Goresan pena Salman ... menguak tabir yang luar biasa!” (Moh. Khairuddin; Ph.D. – Candidate University Technology Malaysia)
a. Judul Buku : Success With Shalat
b. Pengarang : Salman Ar-Raisy
c. Penerbit : Pro You (Kelompok Penerbit Pro-U Media)
d. Harga : Rp. 30.000,-e. ISBN : 979-166612-1
f. EAN : 978-979-1-666-121
g. Kategori Buku: Dakwahh. Tahun Terbit : 2008 (buku baru)
Madrasah Jiwa Perindu syurga

Kemuliaan manusia dalam pandangan Allah tidaklah diukur berdasarkan postur tubuh yang sempurna, harta yang banyak, keturunan yang baik, pangkat yang tinggi dan kekuasaan yang luas di dunia, namun ditentukan oleh kemuliaan jiwa yang menghuni raganya. Jiwa yang bersinar karena cahaya iman dalam dada. Jiwa yang semangatnya senantiasa tetap membara dan sanggup memberikan apapun yang terbaik untuk-Nya. Jiwa yang merindukan surga karena disitu ia akan berkumpul bersama para kekasih-Nya.Namun jiwa kita sering kali terlena dan tergoda oleh keindahan dunia. Berkecimpung dengan berbagai urusan dunia acap kali menjadikan kita lupa dengan kewajiban kita sebagai seorang hamba. Iman dan semangat juangpun terkadang ikut melemah tatkala sering diterpa dengan berbagai cobaan hidup. Disaat-saat seprti inilah jiwa kita membutuhkan madrasah untuk penyegar, penjaga, dan pemelihara iman agar senantiasa istiqomah di jalan-Nya.a. Judul Buku : Madrasah Jiwa Perindu Surgab. Pengarang : Mas Udik Abdullahc. Penerbit : Pro-U Mediad. Harga : Rp. 30.000,-e. ISBN : 979-25-1927-0f. Kategori Buku: Dakwahg. Tahun Terbit : 2006
Never Ending Succes

Kesuksesan adalah kebahagiaan.. itulah kuncinya. Orang dikatakan sukses apabila dia bahagia. Sukses sejati adalah sukses tanpa batas. Sukses yang bahagianya benar-benar beda. Bahagianya kekal abadi, tak dibatasi oleh sempitnya ruang dan pendeknya waktu kehidupan. Tak hanya yang kelihatan oleh mata saja tapi adalah yang merasuk dalam inti hati. Nikmatnya terasa di dunia dan akan berlanjut terus hingga di surga. Itulah sukses tanpa batas, bahagianya tak terhenti, tak bertepi, dan tak berakhir. Pohon dengan segala kSebatang pohon dengan segala kekhasannya memberi inspirasi dahsyat sekaligus menjadi The Best Trainer dalam buku ini. Dengan kekuatan yang luar biasa dari dirinya akan memberi motivasi anda melejitkan potensi diri anda untuk meraih sukses tanpa batas. Spirit yang berbeda dan akan selalu terjaga kobarannya. Karena dimanapun dan kapanpun anda berada insya Allah akan selalu menemui the best trainer ini. Inilah yang disebut sebagai motivasi efektif melejitkan potensi diri.Selamat menjelajah dunia baru! Sudah saatnya anda menikmati kebahagiaan yang berbeda setelahnya.
a. Judul Buku : Never Ending Success
b. Pengarang : Budi Hartonoc.
Penerbit : Penerbit Pro You (Kelompok Penerbit Pro-U Media)
d. Harga : Rp. 25.000,-e. ISBN : 979-25-1929-7
f. Kategori Buku: Motivasi
g. Tahun Terbit : 2007
Bikin Belajar Selezat Coklat

Belajar kok selezat cokelat? Apanya yang lezat? Yang namanya belajar, tuh: butuh baca semua buku meski mata udah nggak kuat, butuh bangun semalaman biar semua bahan ingat, butuh latihan semua soal meski abang bakso lewat, yang jelas, pasti terasa BERAAATT!! (apalagi dibandingi sama lalat...). kalo males, bakal kuwalat! Ngerjain pe-er telat? Bisa kena damprat! Belajar TERUS? MANA KUAAT!
Hehe...belum tahu dia! Yang namanya belajar itu bisa bikin kita keranjingan. Yang tadinya beban, malah bisa ketagihan. Yang dulunya memuakkan, sekarang jadi kesayangan. Yang dulunya bikin muntah, kali ini bikin hidup jadi indah. Males nggak sudi singgah; tiap hari pengenanya sekolah. Ya maklum aza, udah jatuh cinta! Belajar? Rasanya jadi lezat, kaya’ cokelat!!So, buku ini hadir untuk ngebantu kamu yang pengena bikin belajar serasa menghirup udara segar. Biar belajar nggak bikin kamu terkapar, tapi malah bikin kamu asyik mojok di kamar. Jatuh cinta ama belajar? Ya, wajar! Habis, lezat cokelatnya serasa menggelegar! Duarrrr
Resensi Buku Jalan Cinta Para Pejuang

Kutipan salah satu bab di dalam buku iniSergapan Rasa Memiliki
..milik nggendhong lali
..rasa memiliki membawa kelalaian-peribahasa Jawa-
Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abud Darda’.”Subhanallaah.. wal hamdulillaah..”, girang Abud Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.”Saya adalah Abud Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abud Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!
”♥♥♥Cinta tak harus memiliki.
Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih, merasa salah memilih pengantar –untuk tidak mengatakan ’merasa dikhianati’-, merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah, dan seterusnya. Ini tak mudah. Dan kita yang sering merasa memiliki orang yang kita cintai, mari belajar pada Salman. Tentang sebuah kesadaran yang kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah.Sergapan rasa memiliki terkadang sangat memabukkan..Rasa memiliki seringkali membawa kelalaian. Kata orang Jawa, ”Milik nggendhong lali”. Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus mempertahankan kesadaran bahwa kita hanya dipinjami. Inilah sulitnya. Tak seperti seorang tukang parkir yang hanya dititipi, kita diberi bekal oleh Allah untuk mengayakan nilai guna karuniaNya. Maka rasa memiliki kadang menjadi sulit ditepis..
Source: buku baru Salim A. Fillah : Jalan Cinta Para Pejuang/Gairah/Sergapan Rasa Memiliki, by Pro-U Media 2008, Harga Rp. 55.000,-
Langganan:
Postingan (Atom)