Agustus 21, 2009

Khutbah Rasulullah SAW Menyambut Ramadhan


“Sungguh telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang penuh
keberkatan. Allah telah mewajibkan kepadamu puasa-Nya. Didalam bulan
Ramadhan dibuka segala pintu syurga dan dikunci segala pintu neraka dan
dibelenggu seluruh syaithan. Padanya ada suatu malam yang terlebih baik
dari seribu bulan. Barangsiapa tidak diberikan kepadanya kebaikan malam
itu, maka sesungguhnya dia telah dijauhkan dari kebajikan.”

“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan penghulu segala bulan, maka “Selamat datanglah” kepadanya.”

Wahai manusia, sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkatan, bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu kewajiban, dan qiam dimalam harinya suatu tatawwu’.

Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan didalamnya samalah dia dengan orang yang menunaikan sesuatu fardhu didalam bulan yang lainnya. Barangsiapa menunaikan sesuatu fardhu dalam bulan Ramadhan samalah dia dengan orang yang mengerjakan tujuh puluh fardhu dibulan lainnya. Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu pahalanya adalah surga. Ramadhan itu adalah bulan memberikan pertulungan dan bulan Allah memberikan rezeki kepada mukmin didalamnya.


Barangsiapa memberikan makanan berbuka kepada orang yang berpuasa, yang demikian itu adalah pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti yang diperoleh orang yang berpuasa. Allah memberikan pahala itu kepada orang yang memberikan walaupun sebutir korma, atau seteguk air, atau sehirup susu. Dialah bulan yang permulaannya Rahmah, pertengahannya ampunan, dan akhirnya kemerdekaan dari neraka. Barangsiapa yang meringankan beban seseorang (yang membantunya) niscaya Allah mengampuni dosanya. Oleh itu banyakkanlah yang empat perkara dibulan Ramadhan.

Dua perkara untuk mendatangkan keredhaan Tuhanmu dan dua perkara lagi kamu sangat menghajatinya. Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya tiada tuhan melainkan Allah dan mohon ampun kepada-Nya.

Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan
perlindungan dari neraka. Barangsiapa memberi minum orang yang
berpuasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolamku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk kedalam surga.”

(H.R.Ibnu Khuzaimah)

Taken from : answering.wordpress.com oleh id amor


Agustus 05, 2009

Wanita Dewasa


Wanita Dewasa by Fatih syuhud(http://www.fatihsyuhud.blogspot.com/)

Secara etimologis (istilah) fiqih seorang wanita dianggap dewasa apabila sudah memasuki masa haid, biasanya saat usia 13 – 14 tahun. Setelah memasuki masa inilah berlaku kewajiban dan larangan agama seperti kewajiban salat lima waktu dan larangan bergaul dengan pria yang bukan muhrim. Menurut hukum negara, wanita baru dianggap dewasa saat berusia 17 tahun saat di mana dia mulai memiliki hak dan kewajiban sebagai warga negara penuh seperti hak untuk mengenyam pendidikan, berpartisipasi dalam pemilu, hak untuk menikah, memiliki KTP atau SIM serta kewajiban untuk menaati peraturan pemerintah yang berlaku.Dewasa dalam pengertian di atas adalah definisi dewasa yang formal yang terkait dengan hukum tertentu baik hukum islam maupun hukum negara.
Sedang dewasa dalam tinjauan umum, termasuk dalam tinjauan psikologi, adalah sempurnanya pertumbuhan fisik dan mental seseorang. Pertumbuhan fisik yang normal mudah diketahui karena dapat dilihat oleh pancaindra. Akan tetapi pertumbuhan mental yang sempurna dan matang merupakan hal yang berbeda..
Dewasa secara mental dapat dilihat dari sikap yang matang dan rasional serta tidak emosional dalam membuat penilaian, dalam bersikap, dalam mengatasi suatu masalah diri sendiri maupun persoalan orang lain. Kalau pertumbuhan fisik akan berhenti pada usia sekitar 20-an tahun, maka kedewasaan adalah proses yang berkembang dalam waktu lama.
Oleh karena itu, dewasa secara fisik dan umur belum menjamin seseorang menjadi dewasa secara mental, pola pikir dan pola sikap. Al Quran menyebut kedewasaan sikap yang sempurna itu dengan istilah al-akhlaq al-karimah atau budi pekerti yang luhur (QS Al Qalam 68:4)
Kedewasaan sikap yang sempurna atau al-akhlaq al-karimah adalah sebuah proses panjang yang berliku walaupun tidak mustahil untuk dicapai. Dan hal yang lebih penting lagi adalah kemauan kuat untuk menjalani proses dan keinginan besar untuk mencapainya. Berikut beberapa langkah awal yang perlu dilakukan:
1. Bertanggung jawab atas apa yang dilakukan. Apabila gagal atau salah jangan berbohong atau menyalahkan orang lain.2. Akui kesalahan yang dilakukan dan berbesar hati meminta maaf. Tanyakan apa yang bisa Anda lakukan untuk mengoreksinya. Ingat apa yang terjadi, supaya kesalahan serupa tidak terulang lagi.3. Cari teman bergaul yang dewasa. Bertemanlah dengan wanita yang Anda anggap lebih dewasa sikapnya yang mau mengeritik Anda. Mintalah nasihat dan saran – dan dengarkan nasihat yang mereka berikan.4. Catat sikap-sikap kurang dewasa Anda, baik yang Anda ketahui sendiri ataupun yang dibilang orang lain. Berlatihlah untuk membuangnya satu-persatu.5. Hormati orang tua, keluarga dekat dan guru spiritual Anda. Karena mereka yang paling mungkin menyediakan waktu untuk Anda saat Anda sangat membutuhkan bantuan.6. Perhatikan dan catat perbuatan apa saja dari teman saja yang paling Anda sukai dan Anda benci. Tiru perbuatan teman Anda yang menyenangkan, dan jangan ditiru sikap mereka yang menyebalkan.[]

Wanita berkepribadian


Wanita Berkepribadian by Fatih Syuhud( http://www.fatihsyuhud.blogspot.com/)

Siti Khadijah, istri Rasul yang pertama, adalah wanita kaya yang tidak hanya berasal dari keturunan bangsawan, beliau juga berwawasan luas dan memiliki kepribadian yang kuat. Empat unsur kelebihan yang beliau miliki tersebut membuatnya menjadi wanita yang tidak hanya berwibawa dan disegani, tapi sekaligus juga dihormati dan menarik banyak kalangan pria Arab bangsawan kaya antri untuk meminangnya, kendatipun waktu itu beliau sudah berusia cukup lanjut, 40 tahun.Namun, sebagai pribadi yang memiliki wawasan luas dan berkepribadian kuat ia tidak mudah menjatuhkan pilihan pada sembarang pria. Baginya, harta yang melimpah dari para pria yang meminangnya tidak akan menjamin hidupnya bahagia. Begitu juga ketampanan seorang pria tidak membuatnya tergoda; ketampanan fisik hanya menarik kekaguman sekejap. Begitu juga kebangsawanan, keningratan, “kedarahbiruan” tidak menjamin seseorang memiliki kepribadian yang baik.
Oleh karena itu tidaklah aneh apabila Siti Khadijah tertarik pada seorang pria miskin bernama Muhammad (waktu itu belum menjadi Nabi dan Rasul). Bukanlah kebangsawanan Muhammad—yang berasal dari suku Quraisy yang ternama—yang membuat hatinya tergerak untuk menikah lagi. Bukan pula ketampanan Muhammad yang mengesankannya.
Wanita yang baik hati, yang berilmu dan berkepribadian kuat akan selalu tertarik hatinya untuk menikah dengan pria yang menonjol kepribadiannya. Yang jujur, dapat dipercaya, memiliki sifat mengayomi, lemah lembut tapi tegas pada saat yang diperlukan, dan yang tak kalah pentingnya, memiliki wawasan atau ilmu yang mencukupi untuk menjadi pemimpin bahtera rumah tangga selamanya. Selama hidup di dunia.
Semua karakter atau kepribadian ideal yang diimpikan Siti Khadijah terkumpul pada diri Muhammad. Dan karena itu,wanita berkepribadian kuat seperti Siti Khadijah tidak merasa malu mengambil inisiatif meminang Muhammad sebagai calon suaminya. Pasangan ideal ini hidup dengan harmonis sampai Siti Khadijah wafat lebih dulu. Rasulullah sendiri sering memuji keagungan hatinya dan keluasan wawasannya serta kematangan sikapnya yang sampai mengundang rasa cemburu Siti Aisyah, salah seorang istri Nabi yang dinikahi setelah wafatnya Siti Khadijah.
Kehalusan budi, kematangan sikap dan keluasan wawasan adalah salah satu tanda seorang wanita yang memiliki kepribadian. Keteguhan dalam memegang prinsip nilai-nilai ajaran Islam dan kemauan untuk menjauhi perilaku yang ditabukan masyarakat setempat adalah standar sejauh mana kita akan dianggap sebagai wanita yang memiliki kepribadian atau tidak.
Perlu dicatat bahwa kepribadian kuat– yang antara lain ditandai dengan sikap tak mudah hanyut pada arus atau tren negatif– adalah timbul dari determinasi (kemauan kuat) untuk memperbaiki perilaku menjadi lebih baik setiap waktu; hari demi hari sepanjang hidup. Dan terkadang hal ini tidak selalu berkaitan dengan keilmuan yang dimiliki. Sering kita melihat wanita pintar yang berkepribadian sangat menjengkelkan, begitu juga sebaliknya, tak jarang kita menjumpai wanita yang tidak begitu pintar tapi memiliki kepribadian yang menyenangkan dan disukai yang mengundang rasa hormat kita.
Islam menganjurkan agar kita memiliki keduanya: ilmu dan wawasan yang luas (QS Al Mujadalah 58:11) serta kepribadian yang kuat (QS At Tin 95:4-6) sebagai salah satu kunci menuju kepribadian wanita salihah.[]

Juli 19, 2009

Nada sibuk?? Ga da tuch!!

Pernahkah Anda bayangkan bila pada saat kita berdoa, kita mendengar ini:
"Terima kasih, Anda telah menghubungi Baitullah".
"Tekan 1 untuk 'meminta'. Tekan 2 untuk 'mengucap syukur'. Tekan 3 untuk 'mengeluh'. Tekan 4 untuk 'permintaan lainnya'.
"Atau.... Bagaimana jika Malaikat memohon maaf seperti ini:
"Saat ini semua malaikat sedang membantu pelanggan lain. Tetaplah sabar menunggu. Panggilan Anda akan dijawab berdasarkanurutannya."
Atau, bisakah Anda bayangkan bila pada saat berdoa, Anda mendapat respons seperti ini:
"Jika Anda ingin berbicara dengan Malaikat, Tekan 1. Dengan Malaikat Mikail, Tekan 2. Dengan malaikat lainnya, Tekan 3. Jika Anda ingin mendengar sari tilawah saat Anda menunggu, Tekan 4. "Untuk jawaban pertanyaan tentang hakekat surga & neraka, silahkan tunggu sampai Anda tiba di sini!!"
Atau bisa juga Anda mendengar ini :
"Komputer kami menunjukkan bahwa Anda telah satu kali menelpon hari ini. Silakan mencoba kembali esok hari."
atau... "Kantor ini ditutup pada akhir minggu. Silakan menelpon kembali hari Senin setelah pukul 9 pagi."
Alhamdulillah. .. Allah SWT mengasihi kita, Anda dapat menelpon-Nya setiap saat!!!
Anda hanya perlu untuk memanggilnya kapan saja dan Dia mendengar Anda. Karena bila memanggil Allah, Anda tidak akan pernah mendapat nada sibuk.
Allah menerima setiap panggilan dan mengetahui siapa pemanggilnya secara pribadi.Ketika Anda memanggil-Nya, gunakan nomor utama ini:
24434
2 : shalat Subuh
4 : shalat Zuhur
4 : shalat Ashar
3 : shalat Maghrib
4 : shalat Isya
Atau untuk lebih lengkapnya dan lebih banyak kemashlahatannya, gunakan nomor ini : 28443483
2 : shalat Subuh
8 : Shalat Dhuha
4 : shalat Zuhur
4 : shalat Ashar
3 : shalat Maghrib
4 : shalat Isya
8 : Shalat Lail (tahajjud atau lainnya)
3 : Shalat Witir
Info selengkapnya ada di Buku Telepon berjudul "Al Qur'anul Karim & Hadist Rasul"
Langsung hubungi, tanpa Operator tanpa Perantara, tanpa dipungut biaya.
Nomor 24434 dan 28443483 ini memiliki jumlah saluran hunting yang tak terbatas dan seluruhnya buka 24 jam sehari 7 hariseminggu 365 hari setahun !!!
Sebarkan informasi ini kepada orang-orang di sekeliling kita.
Mana tahu mungkin mereka sedang membutuhkannya
Sabda Rasulullah S.A.W : "Barang siapa hafal tujuh kalimat, ia terpandang mulia di sisi Allah dan Malaikat serta diampunidosa-dosanya walau sebanyak buih laut"
7 Kalimah ALLAH:
1. Mengucap "Bismillah" pada tiap-tiap hendak melakukan sesuatu.
2. Mengucap " Alhamdulillah" pada tiap-tiap selesai melakukan sesuatu.
3. Mengucap "Astaghfirullah" jika lidah terselip perkataan yang tidak patut.
4. Mengucap " Insya-Allah" jika merencanakan berbuat sesuatu di hari esok.
5. Mengucap "La haula wala kuwwata illa billah" jika menghadapi sesuatu tak disukai dan tak diingini.
6. Mengucap "inna lillahi wa inna ilaihi rajiun" jika menghadapi dan menerima musibah.
7. Mengucap "La ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah " sepanjang siang dan malam sehingga tak terpisah dari lidahnya.
Dari tafsir Hanafi, mudah-mudahan ingat, walau lambat-lambat. .. mudah-mudahan selalu, walau sambil lalu... mudah-mudahan jadi bisa, karena sudah biasa..
Taken from : www.ardiz.blogspot.com

Ikhlas!!

Syaikh Ahmad Ibnu Athaillah berkata dalam kitab Al Hikam, "Amal perbuatan itu sebagai kerangka yang tegak, sedang ruh (jiwa)nya adalah tempat terdapatnya rahasia ikhlas (ketulusan) dalam amal perbuatan
"Bab tentang ikhlas adalah bab yang mutlak dan paling penting untuk dipahami dan diamalkan, karena amal yang akan diterima Allah SWT hanyalah amal yang disertai dengan niat ikhlas.
"Tidaklah mereka diperintah kecuali agar berbuat ikhlas kepada Allah dalam menjalankan agama".
Oleh karenanya, sehebat apapun suatu amal bila tidak ikhlas, tidak ada apa-apanya dihadapan Allah SWT, sedang amal yang sederhana saja akan menjadi luar biasa dihadapan Allah SWT bila disertai dengan ikhlas.
Tidaklah heran seandainya shalat yang kita kerjakan belum terasa khusyu, atau hati selalu resah dan gelisah dan hidup tidak merasa nyaman dan bahagia, karena kunci dari itu semua belum kita dapatkan, yaitu sebuah keikhlasan.
Ciri-ciri dari orang yang memiliki keikhlasan diantaranya :
Hidupnya jarang sekali merasa kecewa
Orang yang ikhlas dia tidak akan pernah berubah sikapnya seandainya disaat dia berbuat sesuatu kebaikan ada yang memujinya, atau tidak ada yang memuji/menilainya bahkan dicacipun hatinya tetap tenang, karena ia yakin bahwa amalnya bukanlah untuk mendapatkan penilaian sesama yang selalu berubah tetapi dia bulatkan seutuhnya hanya ingin mendapatkan penilaian yang sempurna dari Allah SWT.
Tidak tergantung / berharap pada makhluk.
Sayyidina 'Ali pun pernah berkata, orang yang ikhlas itu jangankan untuk mendapatkan pujian, diberikan ucapan terima kasih pun dia sama sekali tidak akan pernah mengharapkannya, karena setiap kita beramal hakikatnya kita itu sedang berinteraksi dengan Allah, oleh karenanya harapan yang ada akan senantiasa tertuju kepada keridhaan Allah semata.
Tidak pernah membedakan antara amal besar dan amal kecil.
Diriwayatkan bahwa Imam Ghazali pernah bermimpi, dan dalam mimpinya beliau mendapatkan kabar bahwa amalan yang besar yang pernah beliau lakukan diantaranya adalah disaat beliau melihat ada seekor lalat yang masuk kedalam tempat tintanya, lalu beliau angkat lalat tersebut dengan hati-hati lalu dibersihkannya dan sampai akhirnya lalat itupun bisa kembali terbang dengan sehat. Maka sekecil apapun sebuah amal apabila kita kerjakan dengan sempurna dan benar-benar tiada harapan yang muncul pada selain Allah, maka akan menjadi amal yang sangat besar dihadapan Allah SWT.
Banyak Amal Kebaikan Yang Rahasia.Mungkin ketika kita mengaji dilingkungan orang banyak maka kita akan mengaji dengan enaknya, lama dan penuh khidmat, ketika kita shalat berjamaah apalagi sebagai imam kita akan berusaha khusyu dan lama, tapi apakah hal tersebut akan kita lakukan dengan kadar yang sama disaat kita beramal sendirian ? apabila amal kita tetap sama bahkan cenderung lebih baik, lebih lama, lebih enak dan lebih khusyuk maka itu bisa diharapkan sebagai amalan yang ikhlas. Namun bila yang terjadi sebaliknya, ada kemungkinan amal kita belumlah ikhlas.
Tidak membedakan antara bendera, golongan, ras, atau organisasi.
Fitrah manusia adalah ingin mendapatkan pengakuan dan penilaian dari keberadaannya dan segala aktivitasnya, namun pengakuan dan penilaian makhluk, baik perorangan, organisasi atau instansi tempat kerja itu relatif dan akan senantiasa berubah, banyak orang yang pernah dianggap sebagai pahlawan namun seiring waktu berjalan adakalanya berubah menjadi sosok penjahat yang patut diwaspadai. Maka tiada penilaian dan pengakuan yang paling baik dan yang harus senantiasa kita usahakan adalah penilaian dan pengakuan dari Allah SWT.
Begitu besar pengaruh orang yang ikhlas itu, sehingga dengan kekuatan niat ikhlasnya mampu menembus ruang dan waktu.
Seperti halnya apapun yang dilakukan, diucapkan, dan diisyaratkan Rasulullah, mampu mempengaruhi kita semua walau beliau telah wafat ribuan tahun yang lalu namun kita senantiasa patuh dan taat terhadap apa yang beliau sampaikan.
Bahkan orang yang ikhlas bisa membuat iblis (syaitan) tidak bisa banyak berbuat dalam usahanya untuk menggoda orang ikhlas tersebut.
Ingatlah, apapun masalah kita kita janganlah hati kita sampai pada masalah itu, cukuplah hanya ikhtiar dan pikiran saja yang sampai pada masalah tersebut, tapi hati hanya tertambat pada Allah SWt yang Maha Mengetahui akan masalah yang kita hadapi tersebut.
Semoga Allah SWT membimbing kita pada jalan-Nya sehingga kita bisa menjadi hamba-Nya yang ikhlas. Amiin.
Sumber : Daarut Tauhid Jakarta, taken from : www.ardiz.blogspot.com

Ingat!!5S

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.
"Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu? " sang Guru bertanya.
"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya, " jawab sang murid muda.
Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.
"Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta."Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kata Sang Guru.
"Setelah itu coba kau minum airnya sedikit."
Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.
"Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru.
"asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.
Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.
"Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka.
"Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau."Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara.
Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya.
Rasanya tak sopan meludah di hadapan guru , begitu pikirnya.
"Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.
Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya.
Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, "Bagaimana rasanya?"
"Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya.
Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana.
Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.
"Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?"
"Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi.
Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.
"Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum.
"Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam.
Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu.
Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah.
Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian.
Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah."Si murid terdiam, mendengarkan.
"Tapi Nak, rasa 'asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya qalbu yang menampungnya.
Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas.
Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau."Ingat 5S-mu: Sholat, Syukur, Sabar, Senyum dan Sedekah.
Taken from : ardiz.blogspot.com

April 07, 2009

Mutiara Iman

“Manfaatkanlah lima masa sebelum datang lima masa; Masa hidup kamu sebelum datang saat mati kamu, masa sihat kamu sebelum datang masa sakit kamu, masa lapang kamu sebelum datang masa sibuk kamu, masa muda kamu sebelum datang masa tua kamu, masa kamu kaya sebelum datang masa kamu ditimpa miskin.”(Hadis riwayat Imam al-Hakim dan al-Baihaqi dari Ibnu Abbas r.a.)
“Tidak akan berganjak dua kaki seorang hamba Allah (dari tempat hisab di padang mahsyar) sebelum ia ditanya berkenaan: Umurnya (yakni masa-masa di sepanjang umurnya); bagaimana ia habiskannya? Ilmunya; bagaimana ia amalkannya? Hartanya; dari mana ia perolehi dan cara mana ia belanjakannya?Tubuh-badannya; bagaimana ia gunakannya?”(Hadis riwayat Imam at-Tirmizi dari Abi Barzah Nadhlah ibn Abid al-Aslami)
“Ar-Rahman telah mengajarkan al-Quran. Telah menjadikan Insan (manusia) sebagai makhluk yang mempunyai akal fikiran. Matahari dan bulan (beredar) dengan perhitungan. Bintang-bintang dan pohon-pohon kedua-duanya bersujud (kepada Allah s.w.t). Langit (alam raya) ditinggikan-Nya, dan diadakan neraca Keadilan. Supaya kamu jangan aniaya dalam neraca timbangan. Dirikanlah timbangan dengan adil dan janganlah kamu merugikan pada timbangan. Bumi ditetapkanNya untuk makhlukNya, padanya ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai mayang (kelopak). Biji-bijian yang mempunyai daun ditangkainya dan harum-haruman. Maka nikmat Allah yang mana lagi yang hendak kamu dustakan?”(Ar-Rahman:1-13)