Juli 19, 2012

Marhaban ya Ramadhan

Nampaknya untu ramadhan kali ini akan ada perbedaan dalam penentuan hari 1 ramadhan, hari dimana bermulanya puasa. berikut adalah referensi dari Arrahmah.com - Insya Alloh saya dan keluarga memulakan puasa esok hari(20 Juli 2012), kami menghargai adanya perbedaan.

Arrahmah.com.Tim rukyatul hilal perwakilan dari Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Hizbut Tahrir Indonesia, Front Pembela Islam (FPI), dan Al Husniyah telah melihat hilal di pos pemantauan Cakung pada pukul 17.58.
"Telah diambil sumpah empat orang oleh pengadilan Agama Jakarta Timur," kata Ustadz Abu Jibriel mewakili tim rukyatul hilal MMI.
Hilal dikabarkan terlihat di ketinggian 3,5 derajat. Untuk itu, Arrahmah.com yang mendasarkan pada pandangan bahwa awal Ramadhan harus menggunakan rukyatul hilal, mengabarkan kepada kaum Muslimin bahwa 1 Ramadhan 1433 Hijriah jatuh pada hari Jumat (20/7/2012).
Sementara itu, kabar dari pos pemantauan Solo yang dihadiri oleh berbagai ormas Islam menyatakan bahwa Hilal terlihat hanya 1,5 derajat. Pernyataan ini diungkapkan oleh Ustadz AR Sugeng Riyadi selaku tim penyelenggara rukyatul hilal Ponpes Assalam.
Data Lajniyah Al-Husniyah Rukyatul Hilal Awal Ramadhan menyatakan saksi-saksi tersebut di antaranya Afriano, H. Muhammad Labib, S.pd.I (28 tahun), Nabil, SS (25 tahun). Data tersebut ditandatangani oleh sekretaris Tim Lajnah oleh H. Lukmanul Hakim, MM.
Sedangkan, sidang itsbat sendiri baru dimulai dan berlangsung di Kementerian Agama RI Jl. MH Thamrin. Sidang sendiri dimulai setelah sholat magrib dan makan malam. Insya Allah akan dikabari kembali dinamika pada persidangan istbat penentuan awal Ramadhan.
(bilal/arrahmah.com)

Juli 17, 2012

Derita Kaum Bersarung di Negeri Para Biksu

Fimadani.com. Myanmar adalah salah satu Negara di kawasan Asia Tenggara yang terdiri dari banyak etnik. Negara yang berbatasan dengan Thailand dan Bangladesh ini dihuni oleh mayoritas pemeluk Budha sebagaimana di Thailand. Hanya sedikit penduduk muslim, sekitar 4% yang terkumpul di Negara bagian Rakhine atau Arakan dan dikenal dengan komunitas muslim Rohingnya. Mirisnya, yang minoritas ini selalu menjadi bulan-bulanan Penguasa atau kelompok sipil mayoritas.
Sejak Myanmar diberi kemerdekaan oleh penjajajah Inggris, tercatat seringkali terjadi konflik berdarah di negeri itu. Apalagi ketika pemerintahannya dipegang oleh Junta Militer. Maka, rakyat sipil yang sebagian besar beragama Budha itu tidak setuju dan berulangkali mengadakan aksi damai menentang kekejaman rezim militer. Tercatat bentrokan besar itu terjadi sepanjang tahun dan beberapa kali mengalami ledakan aksi masa.

Terkait mengapa warga minoritas menjadi korban pembantaian, ada banyak sumber yang beredar. Dimulai dari pemaksaan agar warga muslim keluar dari agamanya, sampai kepada isu bahwa komunitas muslim bukanlah warga asli Myanmar.
Maka, dari gerakan itu muncullah seorang tokoh wanita yang diklaim dan dinobatkan sebagai peraih nobel perdamaian lantaran mendukung perjuangan Demokrasi dan Hak Asasi manusia. Adalah Aung San Suu Kyi. Ia dan partainya berhasil memenangi pemilu dengan meraup 82% suara rakyat Myanmar. Meski demikian, kemenangan rakyat itu dianulir oleh Junta Militer sehingga penindasan di Negara tersebut terus terjadi, tanpa jeda lama. Bahkan, berdasarkan beberapa sumber, kekerasan yang terjadi secara sistemik terhadap kalangan minoritas Muslim bersebab adanya maksud pemusnahan generasi.
Secara fisik, warga Rohingnya memang lebih mirip dengan penduduk Bangladesh atau India. Berperawakan tinggi, kulit hitam, hidung mancung. Berbeda dengan kebanyakan warga Myanmar yang bertubuh kecil, kulit putih dan mata agak sipit. Tak heran jika kemudian Presiden Myanmar, Thien Sein, mengklaim bahwa Muslim Rohingnya bukanlah warga asli Myanmar dan harus diungsikan ke kamp-kamp pengungsian untuk dirawat oleh PBB. Semntara itu, sekjen PBB secara tegas mengatakan bahwa warga Rohingnya adalah warga Myanmar dan merupakan komunitas yang mengalami penindasan etnik paling mengenaskan sepanjang sejarah di seluruh dunia.
Bentuk Penindasan
Awal juni lalu, kita dibuat terhenyak dengan berita yang disampaikan oleh salah seorang ustadz yang bergiat dalam aneka aksi solidaritas muslim di seluruh dunia. Sang ustadz menuturkan bahwa beliau menerima kabar dari koleganya tentang pembantaian yang kembali dialami oleh saudara kita di Rohingnya. Pembantaian bertahap itu terjadi sebanyak tiga kali sepanjang bulan itu dengan korban antara 200 sd 700 Muslim yang insya Allah Syahid. (Lihat lebih lanjut:http://chirpstory.com/li/10160)
Pembantaian ini bermula dari adanya kabar burung bahwa salah satu warga Rohingnya melakukan pemerkosaan terhadap wanita Budha. Akhirnya, warga mayoritas yang diliputi bara dendam melakukan aksi dengan melakukan pembantaian membabi buta. Membakar masjid, rumah pendduduk beserta seluruh warganya dihabisi tanpa ampun.
Pembantaian ini memnag sudah direncanakan. Sejumlah pelaku sengaja melakukan makar dengan membakar pemukiman penduduk. Sedangkan sebagian lainnya berjaga di sekeliling kampung dengan senjata lengkap berupa pedang sepanjang satu meter dan aneka alat perang manual lainnya. Maka, warga yang rumahnya dibakar itu secara otomatis berlari keluar kampung untuk menyelamatkan diri beserta seluruh anggota keluarganya. Ironisnya, ketika keluar disinyalir sebagai salah satu cara menyelamatkan diri, di sana mereka malah menemui Izrail lantaran sudah ditunggu oleh para algojo bengis yang tengah berjaga-jaga. Inna lillahi wa inna ilahi roji’un.
Parahnya, warga Muslim yang didapati melaksanakan sholat berjama’ah di masjid-masjid mereka langsung dibunuh di tempat oleh pihak militer maupun warga mayoritas. Mari sejenak berfikir, di sana saudara kita ini harus menukar sholat berjama’ah dengan nyawa mereka yang hanya satu itu. Sementara kita, dengan senang hati, tanpa merasa bersalah, berdalih aneka rupa hanya karena malas untuk berjama’ah di masjid. Apa kira-kira alasan yang akan kita kemukakan di hadapan Allah jika kelak kita ditanyai tentang hal ini?
Hijrah
Ketika Rasulullah dan Para Sahabat diblokade, maka Allah memerintahkan mereka untuk berhijrah sebagai salah satu strategi jitu. Terbukti, selepas hijrah, kaum muslimin berhasil menunjukan taring kesantunannya dan kemudian kembali ke Mekkah dengan gagah perkasa, tanpa pertumpahan darah, setetespun.
Demikian pula strategi yang diterapkan oleh komunitas Muslim Rohingnya. Secara bertahap mereka melakuan hijrah laut dengan perahu kecil dari kayu yang berkapasitas antara 100 sd 200 orang per perahu. Tentunya over kapasitas, tapi lantaran penjagaan Allah, tak pernah sekalipun ditemui kapal ini oleng lantaran perjalanan jauh.
Bangladesh adalah Negara yang dijadian sebagai tujuan utama untuk berhijrah. Disamping dekat, bentuk fisik warga Muslim Rohingnya ini memang mempunyai kemiripan dengan warga Bangladesh. Mungkin saja, karena kesamaan fisik dan kesamaan agama ini, menurut pemikiran warga rohingnya, warga Bangladesh akan menerima mereka dengan lapang dada seperti halnya Anshor menerima Muhajirin kala itu.
Sayangnya, asumsi tak terbukti. Meski sama muslimnya dan sama cirri fisiknya, polisi pantai dan sebagian warga Bangladesh tak mau menerima warga Rohingnya lantaran takut dengan Junta Militer Myanmar. Maka, Muhajirin Myanmar itu hanya dikumpulkan di tepi pantai, sambil telanjang dada, hanya bersarung ala kadarnya dan dijemur diterik pantai yang tak terperih. Tanpa jeda lama, mereka langsung disuruh kembali ke Negerinya dengan menaiki kapal yang sama dengan sedikit belas kasih : sebotol air minum dan beras untuk bekal perjalanan.
Jangan bayangkan bahwa beras itu akan dimasak sebelum dimakan. Karena di dalam perahu yang kelebihan penumpang itu, tidak terdapat alat untuk memasak. Maka dipastikan bahwa Saudara Muslim kita itu memakan beras mentah sepanjang perjalanan laut. Sementara itu, di belahan bumi lain, kita sedang sibuk mencela makanan yang tak enak secara nafsu, bahkan ada diantara kita yang tengah memilih aneka makanan lezat di restauran mahal di negeri hijau bernama Indonesia. Miris. Katanya, semuslim itu satu tubuh. Tapi, kita terbahak saat mereka merintih, menjerit dalam kesusahan. Inilah fakta.
Setelah diusir dari Bangladesh, tak mungkin mereka kembali ke negerinya. Karena di negerinya itu mereka hanya akan menemuai ajal dengan cara yang sangat mengenaskan. Maka, terkatunglah perahu kayu itu di tengah samudera. Atas ijin Alah, perahu itu ada yang kemudian sampai di ujung Thailand dan sebagiannya berhasil mendarat di Aceh dengan keadaan lunglai bagai tak bernyawa.
Cerita ini masih terjadi hingga sekarang. Jika kita mau membuka mata, maka sebenarnya pemerintah Junta Militer dan kaum mayoritas sengaja merawat konflik ini hingga sekarang. Bahkan, ketika peristiwa pembantaian terjadi, di tempat kejadian terdapat polisi yang asik menonton kaum mayoritas sedang menganiaya kaum minoritas dengan peralatan perang manualnya.
Dimanakah Kita?
Hingga saat ini, pembantaian itu masih terjadi dengan berbagai skalanya. Besar ataupun kecil. Dan, dunia, diam. Amerika, diam. PBB, bisu. Lantas, Dimanakah kita? Apa yang harus kita lakukan?
Islam adalah agama yang paling menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan. Dalam al-Qur’an disebutkan bahwa orang yang beriman adalah bersaudara. Dalam hadits nabi juga disebutkan bahwa orang mukmin itu bagaikan satu tubuh. Jika ada anggota tubuh yang terluka atau tersakiti, maka anggota tubuh yang lain akan mengalami sakit serupa.
Maka, persaudaraan dalam konsep islam tidak terbatas wilayah. Apalagi sekedar wilayah teritorial seperti batas desa, kota, kabupaten atau negara. Persaudaraan Islam, batasnya adalah Aqidah. Dimanapun beradanya, ketika Robbnya adalah Allah dan Rasulnya adalah Muhammad, maka kita wajib untuk membantunya karena mereka adalah saudara seaqidah kita. Tak peduli mereka berada di luar daerah atau luar negeri sekalipun. Karena nasionalisme buta adalah produk dagangan musuh Islam yang hendak mencerai-beraikan kekuatan kamu muslimin.
Sederhananya, mari membayangkan! Apa kiranya perasaan kita ketika yang dibakar adalah rumah kita? Apa yang kita rasakan bila yang berada di dalam kapal yang terkatung-katung di tengah samudera itu adalah kita, anak kita dan saudara kandung kita? Bagaimana jika yang dibunuh adalah Ibu kita? Bibi, Paman, Keponakan, Sepupu atau Saudara Kandung kita? Bagaimana jika yang diperkosa adalah adik kita yang baru akan mekar? Atau, istri yang barus aja kita nikahi? Dan anak-anak yang meregang nyawa itu adalah anak kandung kita yang telah ditunggu kehadirannya sejak lama? Mungkinkah kita berdiam diri dan berkata pongah,” Buat apa mengurusi mereka yang jauh? Yang dekat saja masih banyak?” Jika masih saja berkata demikian, semoga saja Allah mengganti hati kita dengan hati yang lain. Kerena berdasarkan riwayat Imam Atb Thabrani disebutkan, “siapa saja yang tidak peduli dengan urusan kaum muslimin, maka ia bukan golonganku (nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam).
Mari, lakukan sesuatu sebisa kita. Doakan mereka disetiap waktu. Agar Allah menolong para Mujahidin dan saudara muslim kita di Rohingnya, Suriah, Palestina, Moro, Pattani, dan di daerah-daerah lain. Semoga Allah menguatkan mereka dan memasukkan kita ke dalam golongan mereka. Golongan yang berperang di jalan Allah, kemudian mereka membunuh atau terbunuh, Karena balasan bagi mereka adalah surga yang lebih luas dari langit dan bumi.
Lalu, sebarkan berita yang benar. Berita yang berasal dari sumber aslinya. Bukan berita olahan kaum kafir atau media kafir lainnya. Sebarkan kepada khalayak, dan biarkan nurani mereka menilai, mana yang lebih dekat dengan kebenaran.
Jangan lupa untuk mengalokasikan harta kita. Ingat! Bukan pemberian. Melainkan saham! Ya, tanamkan Saham Jihad kita untuk saudara-saudara kita yang teraniaya itu. Alokasikan sebanyak-banyaknya, sesuai kapasitas kita. Karena Allah akan mengganti dengan kelipatan sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Tanamkan saham itu secepatnya, sebelum Allah menarik karunia harta itu lantaran tidak digunakan sebagaimana mestinya.
Dan, jangan lupa untuk mempersiapkan diri. Karena perjuangan, dimulai dari sekarang. Jika kita tidak terlibat dalam aksi kebaikan, maka secara otomatis, kita tengah berada dalam proyek keburukan, disadari atau tidak, besar atau kecil skalanya.
Akhirnya, semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita dan menguatkan kita untuk terus berjuang meninggikan kalimatNya. Karena kemenangan itu Janji Allah yang pasti terwujud, cepat atau lambat, dengan atau tanpa kita.
ditulis oleh Usman Al Farisi.

Juli 13, 2012

Etika Safar (Perjalanan Jauh)

Diantara kita tentu pernah melakukan perjalanan (safar); baik itu perjalanan untuk menuntut ilmu, berziarah kepada famili, sekedar berekreasi, atau untuk mudik lebaran. Untuk itu, kita semestinya memperhatikan adab bersafar, sehingga sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kali ini redaksi www.fimadani.com menyajikan adab-adab atau etika safar bagi seorang Muslim yang kami angkat berdasarkan referensi Bahjatun Nazhirin Syarhu Riyadhis Shalihin karya Syaikh Salim bin Id Al Hilali. Silakan disimak.
Dari Ka’b bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salalm pergi menuju perang Tabuk pada hari Kamis, dan Beliau menyukai bepergian pada hari Kamis.” (Muttafaqqun ‘alaih)
1. Sunnah berangkat pada hari Kamis dan waktu Dhuha
Dari Shakhr bin Wada’ah Radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa: “Ya, Allah. Berkahilah umatku pada permulaan siang mereka”. Dan jika ingin mengutus pasukan, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus mereka pada permulaan siang (pada waktu Dhuha). Dan Shakhr adalah seorang pedagang. Dia mengirim utusan dagangnya pada permulaan siang, hingga ia menjadi kaya dan mendapat harta yang banyak. (HR Abu Dawud dan Tirmidzi, hasan)
2. Disunnahkan Membaca Do’a Ketika Menaiki Kendaraan
Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menaiki kendaraan ketika hendak bepergian, Beliau bertakbir sebanyak tiga kali, kemudian berdoa: “Maha Suci Dzat yang telah menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal kami dahulu tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kepada Rabb kamilah, kami akan kembali. Ya, Allah! Kami mohon kepadaMu dalam perjalanan kami ini kebajikan dan takwa, serta amal yang Engkau ridhai. Ya, Allah! Mudahkanlah perjalanan kami ini, serta dekatkanlah jarak perjalanan kami. Ya, Allah! Engkaulah teman dalam perjalanan, dan penjaga keluarga yang kami tinggal. “Ya, Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari kesulitan dalam perjalanan, kesedihan serta tempat kembali yang buruk dalam keluarga, harta dan anak”.
Dan jika kembali dari perjalanan, disunnahkan membaca do’a di atas, kemudian ditambah dengan lafazh: آيِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ لِرَبِّنَا حَامِدُوْنَ (Kami kembali kepada Allah dengan bertaubat, menyembah dan memujiNya). (HR Muslim)
3. Disunnahkan Tidak Sendirian dan Memilih Ketua Rombongan
Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Seandainya saja manusia mengetahui apa yang aku ketahui tentang bahaya kesendirian, niscaya tak ada seorang pun yang mau bepergian pada malam hari seorang diri.” (HR Bukhari)
Dalam hadits di atas, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan sinyalemen adanya bahaya yang menghadang dalam perjalanan, dikarenakan bepergian sendirian. Oleh karenanya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya, karena dikhawatirkan adanya bahaya yang datang dari segala penjuru, syethan akan menghampirinya, membisikkan rasa was-was, serta menggodanya dalam perjalanan untuk melakukan perbuatan maksiat. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam salah satu sabdanya:
Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Orang yang bepergian sendirian adalah (bersama) syethan. Dan orang yang bepergian berdua adalah (bersama) dua syethan. Sedangkan orang yang berpergian bertiga adalah rombongan musafir (yang tidak dihampiri syethan).” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi dan Nasa’i, dengan sanad-sanad yang shahih)
Mengomentari hadits tersebut, Syaikh Salim bin Id Al Hilali menunjukkan adanya faidah yang bisa diambil, sebagai berikut :
  • Syethan akan menemani seseorang yang bepergian sendirian.
  •  Bepergian seorang diri akan mengundang syethan untuk menghampirinya. Hal seperti ini merupakan kebiasaan yang dilakukan syethan.
  • Syethan menjauh dari kelompok musafir yang banyak (berjumlah di atas tiga orang), karena kelompok tersebut saling menolong sesama mereka, dan bahu-membahu dalam mengenyahkan kesulitan yang menimpa salah seorang dari mereka.
  • Wajibnya bepergian dengan berjama’ah, minimal tiga orang.
Bila seseorang bepergian seorang diri, tentu ia tidak memiliki kawan yang akan menolongnya jika tertimpa kesulitan. Misalnya, seperti sakit dalam perjalanan dan kesulitan-kesulitan yang membutuhkan pertolongan orang lain.
Dalam larangan bepergian sendirian ini terdapat hikmah bagi keselamatan seorang mukmin. Memang benar, seorang mukmin harus bertawakal dan menggantungkan diri sepenuhnya kepada Allah. Namun, bertawakal kepada Allah tidak berarti menafikan sebab. Karena meminta bantuan kepada manusia yang hadir dan mampu dikerjakannya, diperbolehkan syari’at.
Larangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut, bukan berarti kita menggantungkan diri secara mutlak kepada teman perjalanan. Sama sekali tidak! Akan tetapi, kita diperintah untuk mengambil sebab yang mengantarkan kepada keselamatan, dan sebagai pencegah terjerumusnya si musafir ke dalam maksiat atau madharat lainnya.
Oleh karena itu, sebagai muslim, selayaknya kita memahami larangan Rasulullah n tersebut, serta menyikapinya dengan benar. Seorang mukmin hendaknya bersemangat mengikuti petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. karena, berdasarkan wahyu dari Allah, Rasulullah adalah orang yang paling faham yang bermanfaat dan yang membahayakan umatnya.
Adapun petunjuk agar mengangkat seseorang untuk memimpin perjalanan, tertuang dalam sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:
Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhuma, mereka berdua berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Jika ada tiga orang yang keluar hendak bepergian, maka hendaklah mereka menunjuk salah seorang dari mereka sebagai pemimpin.” (HR Abu Dawud, hasan)
Seseorang yang ditunjuk sebagai pemimpin rombongan, hendaklah orang yang shalih dan mampu mengemban tugas kepemimpinan dalam perjalanan. Karena ia memikul tanggung jawab yang tidak ringan. Dia harus mampu mengambil keputusan yang benar pada saat-saat genting, saat rombongan menghadapi masalah, serta tugas-tugas lain yang menuntut kemampuannya untuk bertindak bijak dan tepat demi kemaslahatan rombongan. Demikian juga perintah pimpinan rombongan harus ditaati oleh setiap personil rombongan tersebut, selama mereka berada dalam perjalanan. Kepemimpinan seseorang dalam perjalanan, tidak sama dengan kepemimpinan khilafah atau pemimpin kaum muslim di suatu negeri. Kepemimpinan dalam perjalanan akan berakhir ketika perjalanan mereka telah usai.
4. Memperhatikan Adab Singgah dan Bermalam
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasuulullah Shallallahu ‘alaihi wa salalm bersabda,”Jika kalian bepergian dan melewati daerah padang rumput, maka berikanlah unta haknya dari (rumput yang tumbuh di) tanah tersebut. Dan jika kalian melewati daerah tandus, maka percepatlah langkah kalian. Dan jika kalian hendak bermalam, maka janganlah bermalam di jalan, karena ia merupakan tempat lewat hewan dan tempat tinggal serangga pada malam hari.”(HR Muslim)
Dalam hadits di atas, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan penjelasan tentang cara bersikap dalam perjalanan, ketika melewati tempat yang kondisinya berbeda satu sama lain. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyuruh untuk berlaku lemah lembut terhadap hewan. Walaupun diperbolehkan menunggangi hewan dalam perjalanan, namun kita juga harus memeperlakukannya dengan baik, memberikan haknya berupa makan dan minum, serta tidak memberinya beban yang membuatnya menjadi payah dan lelah.
Adab lain yang harus kita perhatikan juga, selama dalam perjalanan agar tetap berkumpul dengan rombongan serta tidak memisahkan diri ketika singgah di suatu tempat. Karena memisahkan diri dari rombongan berarti perpecahan. Sedangkan perpecahan sangat dicintai syethan. Pada perpecahan tersebut terdapat banyak madharat yang harus dihindari oleh kaum mu’minin.
Dari Abu Tsa’labah Al Khusyani Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,”Dahulu, jika para sahabat singgah di suatu tempat, mereka berpencar di bukit-bukit dan lembah-lembah. Maka Rasulullah bersabda,’Sesungguhnya berpencarnya kalian ke bukit-bukit dan lembah-lembah merupakan kehinaan bagi kalian (dan itu berasal) dari syethan’. Maka setelah kejadian itu, mereka tidak singgah di suatu tempat, kecuali mereka bergabung satu sama lainnya.” (HR Abu Dawud, Ahmad, dan Al Hakim, shahih)
Ketika singgah di suatu tempat, kita juga dianjurkan untuk berdo’a, bertakbir ketika berada di tempat yang tinggi, serta bertasbih ketika melewati lembah atau tempat yang rendah.
Dari Khaulah binti Hakim , ia berkata, aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Barangsiapa yang singgah di suatu tempat, kemudian ia berdo’a, ‘aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari segenap keburukan yang Ia ciptakan’, niscaya tidak ada sesuatu pun yang membahayakannya sampai ia pergi dari tempat tersebut”. (HR Muslim)
Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,”Kami bertakbir, jika menaiki (tempat yang tinggi), dan bertasbih manakala kami menuruni lembah.” (HR Bukhari)
5. Disunnahkan Memperbanyak Do’a, Karena Pada Saat Itu Do’a Dikabulkan
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Tiga jenis do’a yang dikabulkan dan tidak diragukan lagi, (yaitu) do’a orang yang dizhalimi, do’a orang yang bepergian dan orang tua (ayah) yang mendo’akan (kejelekan) atas anaknya.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi, hasan)
6. Jika Kepentingannya Sudah Selesai Disunnahkan Segera Kembali Pulang dari Safar
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Safar (perjalanan) adalah bagian dari adzab yang mencegah salah seorang kalian dari makan, minum dan tidur. Maka bila salah seorang kalian telah mencapai maksud dari perjalanannya, hendaklah segera kembali kepada keluarganya.” (Muttafaqqun ‘alaih)
7.  Disunnahkan Kembali Dari Safar Pada Siang Hari, Dan Dimakruhkan Kembali Pada Malam Hari
Dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Jika salah seorang kalian berpergian dalam jangka waktu yang lama, maka janganlah (kembali dari safarnya dengan) mengetuk pintu pada malam hari.” (HR Bukhari dan Muslim)
8.  Disunnahkan Shalat Dua Raka’at di Masjid Terdekat Sebelum Mendatangi Rumahnya
Dari Ka’ab bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dari perjalanan, Beliau mendatangi masjid dan shalat dua raka’at. (Muttafaqqun ‘alaih)
9. Wanita Diharamkan Bepergian Tanpa Disertai Mahramnya
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir bepergian dalam jarak sehari semalam, kecuali disertai mahramnya.” (Muttafaqqun ‘alaih)
Hadits ini menjelaskan haramnya wanita bepergian tanpa mahram dalam jarak sehari semalam. Tetapi bukan berarti wanita dibolehkan bepergian dengan tanpa mahram jika jaraknya kurang dari sehari semalam, karena ada beberapa hadits lainnya yang menerangkan dengan jelas haramnya wanita bepergian tanpa mahram secara mutlak (tidak terikat dengan jarak maupun waktu). Diantara hadits-hadits tersebut, adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu :
Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan wanita, kecuali disertai dengan mahramnya. Dan janganlah seorang wanita bepergian, kecuali bersama mahramnya”. Lalu seorang sahabat berkata kepada Beliau,”Wahai, Rasulullah. Sesungguhnya isteriku pergi berhaji, sedangkan aku diperintah untuk turut serta dalam peperangan ini dan itu.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,”Kembalilah dan berhajilah bersama isterimu.”
Syaikh Salim bin Id Al Hilali berkata,”Hadits ini menerangkan larangan yang sangat jelas tidak dibolehkannya seorang wanita bepergian tanpa mahram. Ada beberapa riwayat yang menerangkan batasan jarak (diharamkannya wanita bepergian tanpa mahram). Sebagian riwayat menyebutkan “di atas tiga hari”, dan riwayat yang lain “dua hari”, dan lainnya “jarak (perjalanan) satu hari”, dan yang lainnya “jarak (perjalanan) satu hari satu malam”, dan riwayat yang lainnya lagi “jarak perjalanan beberapa mil”. (Terjadinya perbedaan) riwayat-riwayat tersebut, disebabkan berbedanya orang yang bertanya (kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan tempatnya. Akan tetapi, (sesungguhnya) diantara riwayat-riwayat tersebut tidak ada kontradiksi. Wal hasil, wanita dilarang (diharamkan) bepergian tanpa mahramnya selama bepergian tersebut disebut safar.”
Demikian penjelasan mengenai etika safar bagi seorang Muslim. Semoga perjalanan yang dilakukan, mudik ke kampung, kali ini lebih barakah. Selamat mudik dan sampaikan salam kami pada saudara dan keluarga di rumah.
Sumber; Fimadani.com

Adab Berhari Raya Idul Fitri

Sebentar lagi umat Islam di seantero jagad akan merayakan Hari Raya ‘Idul Fithri. Inilah hari kemenangan bagi mereka yang berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan. Semua umat Muslim bersuka cita menyambut datangnya hari raya.
Umat Muslim di berbagai tempat, daerah, dan negara memiliki tradisi masing-masing dalam menyambut datangnya Hari Raya ‘Idul Fithri. Namun, intinya pada saat hari raya, setiap keluarga bisa berkumpul, saling mengunjungi, dan bersilaturahim, serta saling memaafka.
Dalam Kitab Mausu’atul Adab Al Islamiyah, Syekh Abdul Azis bin Fathi As Sayyid Nada menjelaskan adab berhari raya secara rinci.Agar ‘Idul Fithri Anda benar-benar bermakna, sebaiknya seorang Muslim hendaknya memperhatikan adab berhari raya. Rasulullah SAW telah memberi contoh dan teladan tentang adab berhari raya.
1. Niat yang benar
Niat yang benar merupakan dasar dari semua urusan. “Wajib bagi seorang Muslim menghadirkan niat yang benar dalam segala perkara berkaitan dengan hari raya, seperti berniat ketika keluar rumah untuk shalat demi mengikuti Nabi SAW, ” ungkap Syekh Sayyid Nada.
2. Mandi
Pada hari ‘Idul Fithri hendaknya setiap Muslim mandi. Sehingga, dapat berkumpul bersama kaum Muslimin Lainnya dalam keadaan bersih dan wangi. Diriwayatkan dari Ibnu Umar RA, bahwa ia mandi pada hari raya ‘Idul Fithri, sebelum berangkat ke tempat shalat. (HR Malik dalam kitab al-Muwaththa).
3. Memakai wewangian
Saat akan shalat ‘Idul Fithri, hendaknya setiap Muslim memakai wewangian dan dalam keadaan bersih.
4. Memakai pakaian baru
Menurut Syekh Sayyid Nada, jika seseorang mampu, disunahkan memakai pakaian baru pada hari raya ‘Idul Fithri. Hal itu menunjukkan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT dan menunjukkan kegembiraan pada hari raya. Ibnu Umar RA memakai pakaian terbaiknya pada kedua hari raya. (HR Al Baihaqi).
5. Mengeluarkan zakat fitrah sebelum melaksanakan shalat.
Sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW, seorang Muslim wajib mengeluarkan zakat fitrah sebelum shalat untuk menggembirakan fakir-miskin dan orang yang membutuhkan pada hari Id tersebut. Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk mengeluarkan zakat fitrah sebelum orang-orang keluar untuk shalat. (HR Bukhari-Muslim).
6. Memakan kurma sebelum berangkat dari rumah pada hari raya ‘Idul Fithri.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Ath-Thabrani, Rasulullah SAW sebelum berangkat shalat pada hari raya ‘Idul Fithri memakan kurma terlebih dahulu. Dalam riwayat lain disebutkan, Nabi SAW tak berangkat shalat ‘Idul Fithri kecuali setelah makan, sedangkan beliau tidak makan pada hari raya Idul Adha, kecuali setelah pulang dan makan dari hewan kurbannya. (HR at-Tirmidzi)
7. Bersegera menuju tempat shalat.
Pada hari raya ‘Idul Fithri, hendaknya setiap Muslim bergegas menuju tempat dilakukannya shalat Id.
8. Keluarnya wanita ke tempat shalat.
Menurut Syekh Sayyid Nada, wanita dianjurkan untuk keluar menuju tempat shalat walaupun sedang haid. Sehingga, mereka dapat menyaksikan dan mendapat kemuliaan hari raya serta merasakan kebahagiaan bersama orang Lain.
Meski begitu, hendaknya wanita yang haid memisahkan diri dari tempat shalat. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Bukhari-Muslim, Nabi SAW memerintahkan gadis-gadis pingitan, anak-anak, serta wanita haid untuk keluar, namun wanita haid yang menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum Mukminin, hendaklah mereka memisahkan diri dari tempat shalat.
9. Anak-anak juga keluar untuk shalat.
Ibnu Abbas RA berkata, “Aku keluar bersama Nabi SAW pada hari raya ‘Idul Fithri dan Idul Adha, kemudian beliau shalat dan berkhutbah… ” (HR Bukhari-Muslim). Menurut Syekh Sayyid Nada, hendaknya anak-anak ikut keluar sehingga mereka ikut merasakan kebahagiaan hari raya, bersenang-senang dengan pakaian baru, keluar ketempat shalat, dan menyaksikan jamaah kaum Muslimin walaupun mereka tidak shalat karena masih kecil.
10. Keluar untuk shalat dengan berjalan kaki.
Keluar berjalan kaki untuk shalat termasuk sunah. Sebagaimana Nabi SAW keluar pada dua hari raya dengan berjalan kaki, shalat tanpa azan dan iqamat, dan pulang berjalan kaki melalui jalan lain. (HR Ibnu Majah). Perbuatan inilah yang disukai selama tak memberatkan orang yang shalat.
11. Bertasbih dengan suara keras sampai ke tempat shalat.
Disunahkan bertasbih mulai dari keluar rumah sampai ke tempat shalat. Hal ini untuk menunjukkan syi’ar Islam.
12. Bersalaman dan saling mengucapkan selamat di antara orang yang shalat.
Bersalaman dan saling mengucapkan selamat akan membahagiakan jiwa yang merasa gembira pada hari Id. Bisa pula sambil mengucapkan, “Semoga allah menerima amal kami dan amal kalian.”
13. Bersilaturahim.
Menjalin silaturahim wajib pada setiap waktu. Namun, semakin dianjurkan pada saat hari raya ‘Idul Fithri. Sehingga, semua anggota keluarga bisa senang dan bisa merasakan kebesaran hari raya itu.
14. Saling bertukar hadiah dan makanan.
Sudah menjadi tradisi, pada hari raya setaip tetangga bertukar makanan dan hidangan. Bahkan, dianjurkan untuk memberikan hadiah bagi mereka yang tak mampu.
Itulah 14 adab berhari raya ‘Idul Fithri. Mari melaksanakannya sebagai salah satu syiar Islam.Taqabbalallahu minna wa minkum wa ahalallahu ‘alaika… Selamat Hari Raya ‘Idul Fithri 1433 H

Sumber; Fimadani.com

Memaknai Ramadhan


Ramadhan juga mahal dari sudut sejarah, sebab pada awalnya Ramadhan ini adalah bulan hadiah terkait dengan terbatasnya umur ummat Muhammad saw dan lemahnya fisik ummat akhir zaman, karena itu ada konsep rukshah dalam puasa bahkan dijadikan sebagai tebusan kesalahan (kaffarah), di mana hal ini tidak terdapat dalam syari'at Nabi terdahulu. Dengan malam 1.000 bulan yang mampu membayar 83 tahun usia semakin menambah mahal nilai puasa Ramadhan, yang selayaknya memacu kita untuk tidak melewatkan detik-detik Ramadhan berlalu begitu saja.  
Ketika Ramadhan Menjelang 
     Para ahli ilmu menyimpulkan dari hadits-hadits shahih tentang datangnya Ramadhan, seperti âtakum ramadhân syahrun mubârak, idzâ kânat awwalu laylah min ramadhân  (Shahihul Jami' No.:55,759) bahwa boleh hukumnya mengadakan acara persiapan menyambut bulan suci Ramadhan dalam rangka semarak syi'ar dan gaung syari'at. Saling berkirim tahni'ah (menyapa), menjalin silaturahim dan tali kekerabatan, termasuk berbagi sedekah pada mustahiq-nya. Persiapan ini penting, untuk menyambut  tamu  agung Ramadhan pembawa nikmat; nikmat pahala, maghfirah,  rezeki  dan  kemudahan urusan. Di sinilah  Ramadhan  bisa kita harapkan menjadi medan pembebasan yang  paling ampuh dari jilatan api neraka, di mana  semua  orang  tak ada  yang  luput  dari  jilatannya.  
(Q.S. Maryam [19]:71-72).
    Imam Ibnu Qudamah, faqih Hanabilah kelahiran Palestina dalam Juz III Al Mughni membolehkan. Demikian pula, Imam Ibnu Rajab dalam Latha'iful Ma'arif-nya. Syaikh Fauzan dalam Al Muntaqa-nya, membolehkan dengan alasan keumuman surat Yunus [10]:58 didukung prilaku salafus-shalih. Ucapan selamatnya Thalhah bin Ubaidillah  t terhadap Ka'ab bin Malik dan dua sahabatnya  terkait diterimanya  tobat  ketiga  sahabat  ini seperti  dikisahkan  dalam  surah  at Taubah dan as-Shahihaein membuat  Imam   Ibnul   Qayyim   Al Jauziyah berkesimpulan serupa, yaitu boleh, dan tidak mengapa.
 
    Persiapan Ramadhan menjadi penting dalam upaya menertibkan simbol-simbol kesyirikan dan kemaksiatan sebagai realisasi dari hadits "wa shuffidati's-syayâthîn"  (dan syetan-syetan pun dirantai). Pemerintah sebagai ulil-'amri dengan dukungan masyarakat luas dan dunia usaha agar menghormati kesucian bulan ramadhan. Dari pengalaman beberapa kasus, tidak jarang terjadi kesalah-pahaman penguasa hiburan ketika masyarakat bertindak untuk mengawal Perda No 10 Tahun 2004 dan Surat Keputusan (SK) Gubernur DKI Jakarta No 98 Tahun 2004, di mana klub-klub malam, diskotik, tempat judi, tempat mesum dan sejenisnya harus ditutup. 
Kesiapan Konsepsional
     Seperti diketahui, Ramadhan ini datang membawa banyak makna. Ramadhan ingin mewarnai kita, ingin men-sibghah para sha'imin. Warna apa yang kita inginkan, apa standar target yang kita mau, semuanya bergantung pada konsep yang kita pahami tentang Ramadhan. Inilah yang disebut oleh Imam Bukhari (194-256 H) dalam kitab Shahihnya dengan al-'ilmu qablal-qauli wal-'amal, ilmu sebelum berkata dan berbuat. Atau imanan wahtisaban dalam hadits-hadits puasa. 
    Dengan konsepsi dasar ini para sha'imin bisa melakukan revolusi nilai, yaitu menyulap haus dan lapar menjadi obat, kurang tidur seperti ribath fisabilillah, infaq sedekah menjadi investasi akhirat. Dengan konsep dasar ini juga para sha'imin melakukan adaptasi keutamaan, bahwa se-liar apapun nafsu seseorang harus tunduk pada aturan Ramadhan. Termasuk bagaimana membuang malas  dengan  tekun  (al-judd), menyulap bosan dengan semangat (al-hirsh), lesu dengan gairah (ghirah) dan seterusnya. Ramadhan harus mendikte nafsu dan membalutnya dengan paket amaliah, amalan seribu bulan.

    Setelah kesiapan konsepsional sebagai bentuk pengamalan al-ilmu qablal 'amal tadi, persiapan selanjutnya yang tidak bisa kita remehkan adalah al-ikhlash wal-ittiba'. Sebab tidak sedikit orang shalih mengeluh terhadap sulitnya melaksanakan bab niat. Campur tangan syetan dalam merayu orang mu'min, mencemarkan dan menebarkan virus syahwat dan syubhat ikut memperparah sulitnya mendapatkan ilmu ikhlas dalam ibadah. Imam Ibnu Abi Syaibah pada Juz-8 kitab Al-Mushannaf-nya menceritakan Umar bin Khatthab ra pernah mendengar untaian do'a seorang Sahabat, "Allahumma'j-'alni mina'l-qalil," Ya Allah kumpulkan aku bersama golongan hamba-Mu yang sedikit. Mendengar do'a orang ini Khalifah Umar t terkejut, beliau bertanya, "ma hadza'd-du'a ?, Apa maksud do'amu itu? Sahabat itu menjawab, maksud do'aku itu adalah firman Allah Ta'alaa : wa qalilun min 'ibadiya's-syakur (Q.S. Saba' [34]:13). 

Paket Amaliah Ramadhan 
    Detik-detik Ramadhan yang sangat berharga ini harus dipergunakan seoptimal mungkin, dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. Sebab Ramadhan itu adalah ayyâman ma'dûdât, waktunya cuma 29 atau 30 hari. Menjadikan Ramadhan sebagai madrasah taqwa, musim pahala dan ampunan dengan berbagai paket program yang sudah disusun oleh ahlul ilmi harus mendapat support dari jama'ah masjid dan rumah tangga muslim.
      Rasulullah saw sendiri  dalam   9 kali Ramadhan, tak pernah sedetik pun menyia-nyiakan peluang emas Ramadhan. Ketekunan Rasulullah dalam amaliah Ramadhan mengalahkan kencangnya tiupan angin. Rasulullah saw adalah ajwadun-nass bil-khair, khususnya di bulan suci Ramadhan. Nabi tadarus Qur'an bersama malaikat Jibril,  Nabi saw menjemput lailatul Qadar dengan I'tikaf di masjid, bahkan sampai 20 hari di tahun wafatnya. Nabi saw bahkan berperang dan meraih banyak kemenangan dalam bulan Ramadhan. Diriwayatkan oleh 'Aisyah g, bahwa para Sahabat jika masuk bulan Ramadhan membebaskan tawanan dan berbagi rezki pada fakir miskin yang wujudnya pada hari ini bisa dalam bentuk sedekah awal puasa, acara buka puasa bersama, sahur bersama, saling tukar ta'jilan dengan tetangga, hadiah lebaran dan sejenisnya.
     Jadi tidak berlebihan jika dikatakan bahwa posisi Ramadhan melebihi obat bagi pasien, air bagi ikan, udara bagi makhluk hidup, hujan bagi petani. Yang kumpulan airnya  akan  berlalu  begitu  saja  jika tidak segera dibendung, dialirkan, dan dimanfaatkan biar menumbuhkan benih-benih kebaikan baru. Berbuah taqwa seperti yang menjadi pembuka dan penutup ayat puasa di Al Baqarah:183 dan 187, la'allakum tattaqun dan la'allahum yattaqun. Sungguh sangat celaka dan sangat merugi sekali, mereka yang masih punya umur bertemu Ramadhan, tapi menyia-nyiakan turunnya ampunan Allah. Saat itu Nabi saw naik mimbar, beliau bersabda: "Malaikat Jibril baru saja mendatangiku, ia berkata: malang nian orang yang mendapati Ramadhan, sedang ia tidak dapat bagian apa-apa, dalam riwayat lain, ia tidak dapat ampunan dan perlindungan dari jilatan api neraka." (Shahih Targhib:997,1679,2491). Marhaban Ya Ramadhan

ditulis oleh;
Abu Taw Jieh Rabbani 
Anggota Dewan Majlis Fatwa Dewan Da'wah Pusat 
dewandakwahjakarta.or.id

Juli 07, 2012

Sedap Malam


Yap, Bunga yang satu ini namanya Bunga Sedap malam. Sesuai dengan namanya bunga ini harum semerbak saat malam. Tapi tak boleh lupa, anda harus memetiknya saat sudah ada mekar, selain itu bunga ini mampu bertahan sampai tujuh hari baru layu.Untuk menikmati wanginya anda bisa menaruh di sudut kamar anda.
Jadilah pengharum ruangan yang alami.

Untuk pembenihannya pun tidak sulit, cukup anda siapkan media tanam pupuk organik : tanah = 1: 2, siram setiap pagi. Bunga ini juga bisa menanamnya langsung dilahan. 
Mudahkan...

_Mari Menanam_

Taman Bunga Lotus


Lotus (teratai ) adalah jenis bunga yang tumbuh liar di parit-parit atau sungai. Kebetulan kemarin saya diajak suami berkunjung kelahan pertanian dimana suami melakukan pendampingan. Lokasi yang kami tuju tidak terlalu jauh dari rumah kami. Hanya butuh waktu sekitar 20 menit. Daerah itu namanya Parit Solo, sebuah perkampungan Transmigran dari Jawa Tengah.

Sepanjang perjalanan yang bersisian dengan parit saya melihat bunga-bunga itu bermekaran, dari yang berwarna ungu, putih dan pink. Mereka berpadu, nampak indah sekali. Suamiku berbaik hati mengambilkan 3 buti'....hehehe, senangnya....alhamdulillah^^

_Oleh-oleh jalan minggu pagi_